Sebetulnya aku tidak terlalu benci rokok. Koreksi. Asap yang dihembuskan dari mulut seseorang setelah menghisap dalam-dalam sepuntung rokok. Kebetulan, aku orang yang cukup tahan dengan asap rokok karena orang-orang di lingkunganku banyak juga yang merokok. Antara lain, kakak laki-laki ku yang paling tua--walaupun sekarang sepertinya sudah berhenti sama sekali, dan tentu saja kebanyakan dari teman-teman cowokku memang banyak yang merokok. Dari kecil aku cukup tahan berdekatan dengan orang yang merokok karena dulu sekali, waktu aku masih rajin dengan kegiatan remaja masjid, sudah banyak teman-teman cowokku--yang meski masih SMA, sudah mulai merokok. Dan mengenal dekat salah satu dari mereka berarti secara otomatis aku juga dekat dengan rokok.
Aku bukan perokok. Sama sekali belum pernah menghisapnya dan hal itu nggak perlu repot ku jelaskan dengan memperlihat hasil x-ray paru-paru untuk membuktikannya. Setidaknya aku merasa cukup sehat. Sepanjang 20 tahun hidupku, aku adalah karin si perokok pasif.
Sebetulnya, aku tidak terlalu keberatan dengan para perokok aktif yang selalu ngebul dimana-mana itu. Yah, mengingat, hukum di Indonesia yang terlalu lemah untuk dipatuhi. Merokok buat ku juga bukan dosa moral yang besar. Hanya saja, aku membenci setengah mati perokok bego yang sembarang mengeluarkan polusi udara itu tidak lihat tempat.
Dan aku punya pengalaman paling buruk dalam hal itu. Suatu hari, seperti biasanya aku melompat ke dalam bis kota untuk pergi kuliah. Bis kota yang ku naiki merupakan semacam mini bus dengan satu pintu yang memuat hanya separuh orang dari bis kota besar biasanya. Bis kota yang ku naiki kali ini merupakan mini bus dengan tipe jendela kecil yang berada di bagian atas dekat dengan langit-langit. Tidak seperti jendela bis yang biasanya lebar dan berada sejajar dengan kursi penumpang. Bis ini sungguh biadab. Sirkulasi udaranya benar-benar buruk oleh karena kecilnya ukuran jendela. Ergh, untung aku naik di pagi hari ketika suhu udara masih cukup sejuk. Jangan coba-coba naik bis macam itu tengah siang di hari-hari musim kering. Rasanya seperti di sauna.
Lalu, si supir menghentikan bis untuk menaikkan penumpang biadab ini. Seorang bapak, masih berusia sekitar akhir 30-an, menggenggam sekotak djarum super. Aku hanya melirik ngeri. Berdoa dan berharap kemungkinan terburuk dalam otak tidak terjadi. Sial! Bapak itu menyulutkan api dan membakar rokoknya. Argh! Asap berputar dalam ruang bis yang sempit. Bis itu seperti di ruang pengasapan. Tak lama, seorang pemuda naik lagi, lebih parah dengan rokok yang menyala-nyala di tangannya. Sial! Sumpah rasanya bis itu udah kayak ruang pengasapannya Hittler.
Aku benar-benar tidak terlalu mempermasalahkan orang-orang yang merokok seandainya mereka mengerti bagaimana harus bersikap. Merokok di tempat sempit sekian meter itu. Merokok harus diakui sebagai hak hidup orang. Kemerdekaan manusia manapun yang mencari nikotin demi paru-paru mereka. Benda yang tidak perlu digubris kehalalan atau keharaman karena semua itu sudah diurus di kantor ke-malaikatan sana. Tapi, kalo orang lain hampir mati karena dicekoki oleh asap seperti yang ku alami?
Aku tidak sedang menyalahkan siapa-siapa, hanya mengajak untuk bersikap lebih logis dan sedikit berbaik hati dengan orang lain. Sedikit kebaikan hati untuk tidak sembarangan merokok.
Tuesday, March 17, 2009
Tuesday, February 24, 2009
Twilight
Ok! Hidup sedang bergulir ke arah yang tak menentu, menabrak dinding-dinding seperti halnya tengah bermain pinball dengan kecepatan super. Entah itu mengenai cinta atau sekedar tanggung jawab tugas yang se-abrek, sebagai seorang mahasiswi biasa yang pemalas. Kadang rasanya menyebalkan sekali. Namun..di tengah kegelapan dalam keputusan asaan itu, aku melihat secercah cahaya. Seperti halnya warna jingga di awal malam. Cahaya itu, setidaknya menstimulasi untuk mencari petualangan baru yang lainnya.
Lupakan, beberapa jumlah laki-laki yang pernah singgah dalam otakku. Karena dia datang membawa era baru dalam imajiku..
Edward Cullen hadir dalam mimpiku sekarang. Hahahahahahahhahahahahahahahahahaa
I'm freakin in love with him, no matter how :D








Lupakan, beberapa jumlah laki-laki yang pernah singgah dalam otakku. Karena dia datang membawa era baru dalam imajiku..
Edward Cullen hadir dalam mimpiku sekarang. Hahahahahahahhahahahahahahahahahaa
I'm freakin in love with him, no matter how :D








Wednesday, December 31, 2008
Moving Out
Dipenghujung tahun 2008. 12 bulan, 52 minggu, dan 366 hari akan terlewat di belakang. Rasanya aku sudah melangkah cukup baik. Mengingat selama setahun penuh, berbagai kejadian--yang membahagikan hingga rasa pilu, semua lalu lalang berganti. Banyak kenangan, banyak juga lagu-lagu yang selalu menemani, baik dalam hati gembira maupun tangis air mata.
2008. Banyak hal yang penting pada tahun ini. Dimulai dari bulan Januari yang penuh euforia kegembiraan untuk ekskavasi pertama. Rasanya deg-deg'an dan penasaran akan seperti apa pengalaman pertama untuk penggalian. Ternyata, 6 hari yang sangat berkesan dalam hidupku, mengalami rutinitas yang sedikit menghebohkan seperti pergosipan hingga pagi buta! Hahahaa.. :D. Lalu Februari kerja jadi tour guide ke Sangiran dan memandu anak SMA. One unforgetable moment. Kebetulan ini jadi pekerjaan profesional pertama yang seharusnya bergaji tapi terlalu kepengenan jadinya dibahas di sini. Bulan berikutnya, sibuk dengan acara HIMA bantuin ngurusin acara bedah buku yang bikin naik-turun keringatan. Ada juga PIAMI di pertengahan tahun dan kembali mengatur pameran foto meski harus tepar karena sakit hati :
Waktu-waktu berikutnya, selama satu semester ini aku hanya sibuk dengan bermain, nongkrong di kampus, dan tugas. What a campus girl!
Sungguh, tahun ini semua terasa sangat baru dan agak berat untuk ku lalui. Bahkan aku sempat terseok-seok melewati hari demi hari yang ada, yang ku akui rasanya semua itu sangat berat. Very first, urusan hati macam begini. I always wish that i could turn back the time. Kalo boleh jujur, ini pertama kalinya aku menyesali semua yang pernah ku lakukan. I know, i was false then i hope i could fix it up... Yah, itu hanya sebatas pengharapan dan doa yang selalu ku panjatkan akhir-akhir ini.
Seandainya aku bisa membahagiakannya.
Merenungi semua yang telah berlalu kemaren. Tentu banyak hal yang bisa dipahami dan diperbaiki. Yang penting adalah selalu mencoba untuk positif menghadapi semua yang telah berantakan. Selalu percaya sama diri sendiri kalo bisa memperbaiki berbagai kesalahan dan belajar untuk jadi sempurna jika dunia memang membutuhkannya. Lalu, memberikan kesempatan pada diri sendiri untuk semuanya. Huwaaaaah *pengen nangis!*
By the way, resolusi tahun berikutnya. Perbaikan untuk semua yang telah rusak. Perlahan-lahan kembali menata, mengambil semua serpihan yang udah hancur remuk redam itu. Nggak terlalu muluk untuk 2009. Hal yang ku inginkan, dan nampaknya jadi tujuan hidupku, adalah bahagia. Selalu bisa ketawa tanpa prasangka pada orang-orang sekitarku.
Mencoba realistis jika "koneksi itu" akan hilang perlahan terganti. Meski aku masih berharap dan berdoa pada Tuhan agar rasa itu tetap utuh.
Mari kita lalui apa yang belum kita jalani.
2008. Banyak hal yang penting pada tahun ini. Dimulai dari bulan Januari yang penuh euforia kegembiraan untuk ekskavasi pertama. Rasanya deg-deg'an dan penasaran akan seperti apa pengalaman pertama untuk penggalian. Ternyata, 6 hari yang sangat berkesan dalam hidupku, mengalami rutinitas yang sedikit menghebohkan seperti pergosipan hingga pagi buta! Hahahaa.. :D. Lalu Februari kerja jadi tour guide ke Sangiran dan memandu anak SMA. One unforgetable moment. Kebetulan ini jadi pekerjaan profesional pertama yang seharusnya bergaji tapi terlalu kepengenan jadinya dibahas di sini. Bulan berikutnya, sibuk dengan acara HIMA bantuin ngurusin acara bedah buku yang bikin naik-turun keringatan. Ada juga PIAMI di pertengahan tahun dan kembali mengatur pameran foto meski harus tepar karena sakit hati :
Waktu-waktu berikutnya, selama satu semester ini aku hanya sibuk dengan bermain, nongkrong di kampus, dan tugas. What a campus girl!
Sungguh, tahun ini semua terasa sangat baru dan agak berat untuk ku lalui. Bahkan aku sempat terseok-seok melewati hari demi hari yang ada, yang ku akui rasanya semua itu sangat berat. Very first, urusan hati macam begini. I always wish that i could turn back the time. Kalo boleh jujur, ini pertama kalinya aku menyesali semua yang pernah ku lakukan. I know, i was false then i hope i could fix it up... Yah, itu hanya sebatas pengharapan dan doa yang selalu ku panjatkan akhir-akhir ini.
Seandainya aku bisa membahagiakannya.
Merenungi semua yang telah berlalu kemaren. Tentu banyak hal yang bisa dipahami dan diperbaiki. Yang penting adalah selalu mencoba untuk positif menghadapi semua yang telah berantakan. Selalu percaya sama diri sendiri kalo bisa memperbaiki berbagai kesalahan dan belajar untuk jadi sempurna jika dunia memang membutuhkannya. Lalu, memberikan kesempatan pada diri sendiri untuk semuanya. Huwaaaaah *pengen nangis!*
By the way, resolusi tahun berikutnya. Perbaikan untuk semua yang telah rusak. Perlahan-lahan kembali menata, mengambil semua serpihan yang udah hancur remuk redam itu. Nggak terlalu muluk untuk 2009. Hal yang ku inginkan, dan nampaknya jadi tujuan hidupku, adalah bahagia. Selalu bisa ketawa tanpa prasangka pada orang-orang sekitarku.
Mencoba realistis jika "koneksi itu" akan hilang perlahan terganti. Meski aku masih berharap dan berdoa pada Tuhan agar rasa itu tetap utuh.
Mari kita lalui apa yang belum kita jalani.
Sunday, December 21, 2008
Dilema manusiawi dan hewani
Kemaren, saya dapet undangan mancing dan makan bareng sama temen kampus. Kebetulan, Sabtu itu saya lagi dirumahkan dari kerjaan Borobudur sama atasan. Daripada nggak ada kerjaan, bengong-bengong--males bikin tugas yang males dikerjain, akhirnya saya mengiyakan rencana itu.
Kayaknya kegiatan ini cukup berprospek juga soalnya ini kali pertamanya saya mancing. Temen-temen cowok saya, seperti biasa, ketawa hina terus ngatain saya anak perumahan yang nggak pernah gaul dengan alam. Biarin! Yang penting dikesempatan pertama ini penasaran juga kepengen mancing ikan yang katanya butuh kesabaran ekstra.
Tapi saya menemukan kenyataan lain dalam kegiatan mancing ini. Bukan kesabaran atau ketabahan, itu bullshit abis. Yang ada adalah pembantaian keji terhadap hewan-hewan tak berdaya! Standar pertama dalam mancing yaitu butuh alat pancing antara lain, benang, umpan dan senjata ampuh paling ngeri, kail!
Umpan pelet di tusukkan ke kail biar ikan-ikan tak berdosa itu tertipu dan memakannya. Lalu benang pancing dilempar ke kolam. Dalam penentuan lokasinya tentu harus ke tempat dimana ikan-ikan itu berkumpul. Agar ikan lari-lari kita harus sepelan mungkin bergerak dan jangan ribut. Setelah itu tunggu sampai ikan itu ketipu dan tarik pancing pelan-pelan.
Kail yang kejam itu akan nyangkut dimulut ikan. Di sinilah dimulai bentuk penyiksaan binatang. Tangan tidak terampil seperti saya, membutuhkan waktu lebih lama untuk mencopot kail itu dari mulut si ikan. Erghh...kalo ikan bisa ngomong pasti waktu saya menarik kail dari mulutnya itu dia pasti udah meraung-raung kesakitan. Ada satu bawal yang sangat sial dimana kailnya nyangkut di ototnya yang keras dan kailnya ku otak-atik sampe' 15 menit. Arghhh parah....!
Pembantaian berikutnya adalah pembersihan ikan untuk siap dimasak. Ternyata bawal-bawal yan berhasil dijaring itu masih hidup walaupun udah nggak diair selama setengah jam. Mulutnya masih megap-megap. Insangnya masih berharap oksigen dalam air. Hiiii...pelaku utama adalah seorang arek suroboyo, yang membanting kepala ikan dengan kecepatan 60 km/jam. Pelaku kedua adalah keturunan darah Palu dan pelaku ketiga adalah saya sendiri. Hiii...
Ketiganya dengan cukup sadis menarik insang keluar dari kepala ikan dan membelah perut untuk mengeluarkan isinya.
Maaf ya ikan... :
Mo jijik gimana, rasanya enak sih..
Kayaknya kegiatan ini cukup berprospek juga soalnya ini kali pertamanya saya mancing. Temen-temen cowok saya, seperti biasa, ketawa hina terus ngatain saya anak perumahan yang nggak pernah gaul dengan alam. Biarin! Yang penting dikesempatan pertama ini penasaran juga kepengen mancing ikan yang katanya butuh kesabaran ekstra.
Tapi saya menemukan kenyataan lain dalam kegiatan mancing ini. Bukan kesabaran atau ketabahan, itu bullshit abis. Yang ada adalah pembantaian keji terhadap hewan-hewan tak berdaya! Standar pertama dalam mancing yaitu butuh alat pancing antara lain, benang, umpan dan senjata ampuh paling ngeri, kail!
Umpan pelet di tusukkan ke kail biar ikan-ikan tak berdosa itu tertipu dan memakannya. Lalu benang pancing dilempar ke kolam. Dalam penentuan lokasinya tentu harus ke tempat dimana ikan-ikan itu berkumpul. Agar ikan lari-lari kita harus sepelan mungkin bergerak dan jangan ribut. Setelah itu tunggu sampai ikan itu ketipu dan tarik pancing pelan-pelan.
Kail yang kejam itu akan nyangkut dimulut ikan. Di sinilah dimulai bentuk penyiksaan binatang. Tangan tidak terampil seperti saya, membutuhkan waktu lebih lama untuk mencopot kail itu dari mulut si ikan. Erghh...kalo ikan bisa ngomong pasti waktu saya menarik kail dari mulutnya itu dia pasti udah meraung-raung kesakitan. Ada satu bawal yang sangat sial dimana kailnya nyangkut di ototnya yang keras dan kailnya ku otak-atik sampe' 15 menit. Arghhh parah....!
Pembantaian berikutnya adalah pembersihan ikan untuk siap dimasak. Ternyata bawal-bawal yan berhasil dijaring itu masih hidup walaupun udah nggak diair selama setengah jam. Mulutnya masih megap-megap. Insangnya masih berharap oksigen dalam air. Hiiii...pelaku utama adalah seorang arek suroboyo, yang membanting kepala ikan dengan kecepatan 60 km/jam. Pelaku kedua adalah keturunan darah Palu dan pelaku ketiga adalah saya sendiri. Hiii...
Ketiganya dengan cukup sadis menarik insang keluar dari kepala ikan dan membelah perut untuk mengeluarkan isinya.
Maaf ya ikan... :
Mo jijik gimana, rasanya enak sih..
Sunday, December 7, 2008
Cinta monyet dari Condong Catur
Baru aja pulang dari takbir keliling di kompleks Perumnas nih. Hehehehehe! Yap, takbir keliling atau biasa disebut takbiran. Ritual malam menjelang hari raya Ied--baik Fitri atau Adha, keliling kampung sambil bertakbir mengumandangkan asma Tuhan Sang Maha Besar. Dari kecil, semenjak SD kelas 3 saya emang hampir selalu ikutan takbiran ini. Kalo mengenang masa kecil dulu rasanya romantis banget. Takbiran, bawa obor dari bambu dan beramai-ramai bareng temen jalan malam sambil teriak-teriak. Apalagi biasanya selalu ada lomba takbir antar TPA yang mana TPA ku, Nurul Iman, selalu jarang jadi juaranya. Makanya, setiap takbiran kita selalu berusaha ngeluarin suara sekeras-kerasnya dan sekompak-kompaknya biar mengesankan para juri.
Yang paling sering takbiran dari temen-temenku ada 2 orang. Kita bertiga bisa dibilang paling rajin kalo soal ikutan takbiran. Alasan pertama, karena serunya jalan-jalan malem. Alasan kedua, karena bisa teriak-teriak sambil mengintimidasi rombongan TPA lainnya. Alasan ketiga karena salah satu temen--sebut aja D, ngecengin pemimpin rombongan takbir TPA. Auuuww, cinta monyet nih ya ceritanya.
Cerita cinta monyet itu ketika D kelas 5 SD (waktu itu saya kelas 6 SD). D suka sama cowok yang aktif di TPA dan emang sih cowok itu jadi idola tersendiri buat anak-anak karena sikapnya yang lucu dan asyik kalo lagi ngajar. Oh ya untuk diketahui, waktu itu cowok itu adalah pelajar SMA yang masih sangat muda belia, hahaha :D, 15 atau 16 tahun. Cinta terpaut beda 6 tahun. Temen-temen termasuk saya sering aja godain si D masalah cowok kecengan dia ini. Yah itung-itung solidaritas persahabatan ceweklah.
Waktu bergulir dan jaman berganti. Dari celana cut bray hingga beralih masih celana bagy. Dari potongan rambut belah tengah ala Bryan Westlife sampe ke gaya screw cut model mohwak. Si D kelas 3 SMP dan cowok itu sudah berkuliah. Masih imut dan muda, ABG-ABG pencari makna cinta. Cinta si D buat cowok itu baru mau dikembangkan--berhubung udah lebih gede dikitlah, tiba-tiba sepucuk undangan itu datang. Undangan-undangan itu tersebar ke tetangga-tetangga yang lain termasuk saya. Undangan nikah si cowok yang tengah berusia sekitar awal kepala 2(21-22 tahun).
Jegerrr!!!! Nikah muda..na lho...
Yeah, si cowok itu tadi termasuk aliran No way pacaran, Just Married. Ngerti kan'!?. Mau usia muda berapapun kalo udah siap nikah langsung aja ucap ijab qabul daripada daripada. Patah hati deh si D. Lagi-lagi kita ada untuk siap tersenyum memberi semangat. Toh itu juga cinta monyet yang hanya saja kalo dikenang lagi sekarang ya paling cuma siap di ceng-cengin terus. :P
Cinta mungkin bisa menyentuh manusia entah di usia mana pun maupun itu dua puluhan, tiga puluhan bahkan yang baru sepuluh tahun. Bisa cinta seperti monyet atau cinta yang mendalam. Kalo dipikir emang sih itu konyol. Cinta monyet yang sedikit bikin shock--dimana ketika ceritanya baru mau dibikin eh langsung dipatahkan. Saya sendiri punya pengalaman, bukan soal cinta namun hubungan lawan ketika jaman SD dulu, jauh lebih bikin kepala geleng-geleng. Pengalaman masa kecil yang bermacam-macam inilah yang akan membawa kita menuju petualangan lain yang lebih mendebarkan lagi. Dari takbiran bisa tahu rasanya patah hati. Hidup itu seperti labirin yang penuh kejutan. Dan tentu saja, kejutan itu ada pada orang-orang yang akan kita ketahui dan selami lebih dalam lagi.
Yang paling sering takbiran dari temen-temenku ada 2 orang. Kita bertiga bisa dibilang paling rajin kalo soal ikutan takbiran. Alasan pertama, karena serunya jalan-jalan malem. Alasan kedua, karena bisa teriak-teriak sambil mengintimidasi rombongan TPA lainnya. Alasan ketiga karena salah satu temen--sebut aja D, ngecengin pemimpin rombongan takbir TPA. Auuuww, cinta monyet nih ya ceritanya.
Cerita cinta monyet itu ketika D kelas 5 SD (waktu itu saya kelas 6 SD). D suka sama cowok yang aktif di TPA dan emang sih cowok itu jadi idola tersendiri buat anak-anak karena sikapnya yang lucu dan asyik kalo lagi ngajar. Oh ya untuk diketahui, waktu itu cowok itu adalah pelajar SMA yang masih sangat muda belia, hahaha :D, 15 atau 16 tahun. Cinta terpaut beda 6 tahun. Temen-temen termasuk saya sering aja godain si D masalah cowok kecengan dia ini. Yah itung-itung solidaritas persahabatan ceweklah.
Waktu bergulir dan jaman berganti. Dari celana cut bray hingga beralih masih celana bagy. Dari potongan rambut belah tengah ala Bryan Westlife sampe ke gaya screw cut model mohwak. Si D kelas 3 SMP dan cowok itu sudah berkuliah. Masih imut dan muda, ABG-ABG pencari makna cinta. Cinta si D buat cowok itu baru mau dikembangkan--berhubung udah lebih gede dikitlah, tiba-tiba sepucuk undangan itu datang. Undangan-undangan itu tersebar ke tetangga-tetangga yang lain termasuk saya. Undangan nikah si cowok yang tengah berusia sekitar awal kepala 2(21-22 tahun).
Jegerrr!!!! Nikah muda..na lho...
Yeah, si cowok itu tadi termasuk aliran No way pacaran, Just Married. Ngerti kan'!?. Mau usia muda berapapun kalo udah siap nikah langsung aja ucap ijab qabul daripada daripada. Patah hati deh si D. Lagi-lagi kita ada untuk siap tersenyum memberi semangat. Toh itu juga cinta monyet yang hanya saja kalo dikenang lagi sekarang ya paling cuma siap di ceng-cengin terus. :P
Cinta mungkin bisa menyentuh manusia entah di usia mana pun maupun itu dua puluhan, tiga puluhan bahkan yang baru sepuluh tahun. Bisa cinta seperti monyet atau cinta yang mendalam. Kalo dipikir emang sih itu konyol. Cinta monyet yang sedikit bikin shock--dimana ketika ceritanya baru mau dibikin eh langsung dipatahkan. Saya sendiri punya pengalaman, bukan soal cinta namun hubungan lawan ketika jaman SD dulu, jauh lebih bikin kepala geleng-geleng. Pengalaman masa kecil yang bermacam-macam inilah yang akan membawa kita menuju petualangan lain yang lebih mendebarkan lagi. Dari takbiran bisa tahu rasanya patah hati. Hidup itu seperti labirin yang penuh kejutan. Dan tentu saja, kejutan itu ada pada orang-orang yang akan kita ketahui dan selami lebih dalam lagi.
Subscribe to:
Posts (Atom)
