Thursday, March 10, 2011

move along with mine

Kamu akan menemukan seseorang yang tidak akan pernah pergi ketika perayaan pesta berakhir hanya untuk sekedar membantu beres-beres piring, atau seseorang yang akan mengajakmu berbincang hal-hal remeh, dan mereka yang akan tinggal lebih lama dalam hidupmu untuk sekedar berbagi cerita.

Para sahabat yang telah lama tinggal dalam kehidupanku. Menemukan mereka yang setiap harinya berubah namun tetap sama. Menerima mereka dalam perjalanan kehidupan ini dalam ruang yang jauh lebih lebar dari siapapun.

8 tahun. Hanya sekedar angka. Sebagai penanda saja bahwa kami memang telah lama bertemu dan berteman. Kemarin kami hanyalah anak SMA nyebelin, hari ini kami adalah orang dewasa tanggung--ada yang udah mau nikah, ada yang anti-nikah, ada yang mau kerja, ada yang belum lulus kuliah, lalu esok hari kami adalah...? Siapa yang tahu masa depan. Seperti kami yang tidak pernah membayangkan 8 tahun akan bersahabat--mengarungi waktu bersama. Mungkin akan ku jawab, esok kami adalah individu yang berbeda dari hari ini namun kami terbentuk dari hari ini. Dan persahabatan kami akan terus berlanjut. Hingga nanti..


Friday, February 18, 2011

random thought

This is a cliche . A common thing to ask by someone who get into twenty-something, like me.

"Hidup ini sebetulnya ngapain sih?"

So, what exactly you want from this life? A very happy story or thee miserable plot? Or both?
It doesn't make any sense nowadays, if ask for it. Maybe it's too late. Or maybe it's time for asking that question? The question popping up in my mind, flashing like thunder, very quick to chewing my brain, and spinning over and over in my dream. Like something you just know the answer but it's hard to say.

Somehow, i can answer that question. But is it the best answer?

I can say, i want some happiness in my life. Having a great time with someone i love, having a best job in the world, having a tons money, taking a journey oversea. And other, and other, and other think like it seems so great. But is it truly great?

And now, like i have a lot thing to see over the world. Life is seems so enough for me. Like i don't wanna have better than this. It doesn't mean i'm asking for stop my life, right now. But...my goal seems so absurd. Now, i don't know again what's my next step for my life.

Sunday, February 13, 2011

So listen to the radio

Malam ini saya ketemuan dengan beberapa teman, asyik jalan-jalan menikmati Yogya yang ruwet dan macet--karena liburan panjang ini. Dalam perjalanan pulang balik, kami sempet ngobrol-ngobrol seru membahas ke-alay-an jaman dulu. Gara-gara inilah saya jadi mengenang salah satu item dari ke-alay-an kami--generasi yang lahir di akhir era 80-an, adalah radio.

Ketika saya menginjak usia belasan, yaitu pada sekitar tahun 99-an, saya mengenal radio sebagai alat paling keren. Saat itu, saya masih duduk di kelas 6 SD, kesukaan baca buku cerita Lima Sekawan, dan saban sore nongkrong chanel radio EMC yang menyiarkan lagu anak-anak dinyanyikan Chikita Meidy, Trio Kwek-Kwek, Maisy, hingga Ira Maya Sofa. Dari setia nongkrong dengan saluran radio saya mulai mengenal kegiatan ini. Cara berkomunikasi yang paling luar biasa dan pada saat bersamaan menjadi satu tren paling gaul se-jagat raya. Kirim salam di radio.


Waktu itu handphone masih belum banyak orang beli karena harganya selangit. Beda dengan sekarang yang kirim salam lewat sms atau twittter, jaman saya masih SMP kirim salam satu-satunya caranya dengan memakai telpon. Entah menggunakan telepon rumah sendiri, pinjam ke rumah tetangga, hingga niat pergi ke wartel. Makanya, mengirim salam lewat telepon ke kantor radio bisa dibilang jadi uji nyali tersendiri. Terutama rasa malu yang menjadi-jadi sehingga omongan kita jadi belibet sendiri.

Ini pengalaman saya waktu masih SMP dan mencoba mengirim salam lewat radio.
Saya ngeliati telepon sambil menarik nafas dalam-dalam, dihembuskan dengan terburu-buru. Jantung rasanya kayak mau meledak. Saya nervous setengah mati. Entah setan apa yang lewat kok mendadak saya menyambungkan telepon demi kirim salam buat kakak kelas super ganteng yang saya taksir.

Tut...tut...
Operator Radio: Ya, Radio Yasika selamat malam.
Saya: Eeee....eh....ehhh.....mau kirim salam mbak (suara kayak orang kumur-kumur)
Operator Radio: Halo? Halo? Apa mbak?
Saya: Uhukkk...uhukkk...(tangan dingin dan keringatan)
Saya mau kirim salam mbak..
Operator Radio: oh...ya silahkan, untuk siapa mbak?
Saya: untuk Deny K di tempat....
Operator Radio: dari siapa?
Saya: Dari Ayu
Operator Radio: Pesannya apa?
Saya: Salam aja...salam-salaman ya...(????????)

Langsung saya tutup begitu selesai bicara. Dan durasi pembicaraan bisa dipastikan kurang dari 1 menit karena saya ngomong super cepat saking groginya...
Dan ketika si penyiar menyampaikannya on air jadinya malah begini.
"Salam berikutnya yaitu untuk Deny K salam sayang dari Ayu"

Great! Banyolan salam itu berubah karena omongan kumur-kumur yang ditanggapi berbeda. Semalaman saya berdoa semoga gak ada yang satu orangpun temen saya atau orang di sekolah yang engeh akan salam sayang itu. Kalau enggak bisa mampus adek kelas berani naksir kakak kelas ganteng. Dan untungnya di Yogya ini ada puluhan orang bernama Ayu dan Deny serta ada sekitar belasan saluran radio. Dengan segala itung-itungan probabilitas. Saya selamat. No one notice that!

Guilty pleasure saya yang lain dengan radio adalah mendengarkan acara curhat pembaca. Lagi-lagi hal konyol lain yang pernah saya lakukan dengan teman-teman. Buat yang nggak familiar. Di radio ada acara yang disiarkan tiap jam 9 malam membacakan surat-surat yang isinya curhatan para pendengarnya. Naaaa...waktu saya masuk SMA kelas 1, saya dan kedua teman melakukan hal iseng. Mengirim e-mail ke acara tersebut dan bercerita soal cinta. Aku--tokoh yang curhat, anak kelas 1 yang terpesona dengan kakak kelas ganteng yang ikut ekskul baris-berbaris, dan hujan turun terus si kakak kelas dengan gentleman menemani si aku yang menunggu hujan. Dari situ percik-percik cinta muncul dan mereka jadian. Diakhir surat aku minta diputarkan lagu cinta dengan tema yang pas.

Romantis dan fiktif. Sumpah ya, waktu itu kita bertiga hanya iseng. Cerita tulisan pun memang mengambil figur kakak kelas yang betulan ada dengan nama yang sama, namun si aku itu cuma tokoh rekaan kami. Buat iseng. Ternyata keisengan kami pun membuat heboh. Nggak nyangka juga ternyata banyak juga cewek-cewek yang ngedengerin acara curhatan di radio. Karena besoknya temen-temen cewek si kakak kelas cowok dibombardir disuruh klarifikasi cerita "jadian" itu. Bahkan temen-temen sekelas ku pun ikutan menggosip. Wew ternyata...

Banyak sekali kekonyolan yang semua berhubungan dengan radio. Curhatan konyol, salam-salam gila untuk cowok yang ditaksir, ke-eksis-an genk cewek di sekolah. Semuanya pernah dilakukan lewat radio. Rasanya lucu banget kalo mengenang semua itu. Namun memang itulah kesempatan kami untuk konyol dan bertindak gila. Segala pemakluman bisa didapatkan kalo dilakukan oleh remaja. Remaja--muda, naif dan idiot. Hahahaha :D

Sunday, December 26, 2010

Old Track

Nuansa hujan dan suram mengingat sedikit pada masa lalu. Tidak menarik waktu terlalu jauh kok..hanya balik ke jaman SMA saja. Disana, saya--berambut cepak, sok rebel, bukan penurut, dan bukan siapa-siapa. Gejolak ingin eksis yang menggelegak bebarengan dengan era musik hingar-bingar jadilah saya menjadi pendengar aliran . Bikin kangen. Dan semua deretan lagu-lagu itu tentu saja selalu memiliki histori--paling banyak adalah mengenang cinta pertama yang nggak pernah bisa diraih itu lho :P

1. Dashboard Confessional - Vindicated
2. The Ataris - The Night The Lights Went Out in NYC
3. Funeral For A Friend - escape Artist Never Die
4. Yellowcard - Gift And Curses
5. Story of The Year - Anthem of Our Dying Day

Sunday, December 19, 2010

Easy Love

Mungkin pikiran sedang kemana-mana sehingga turut juga membawa perasaan bagaikan kapas-kapas yang melayang di udara. Semuanya jadi kemana-mana. Entah kenapa, seperti pemikiran atau ide selalu pop-up kapanpun. Disaat yang tepat maupun tidak.

Ini gara-gara Facebook dengan jejaring laba-labanya yang membuat kita selalu bikin ketemu orang-orang yang dikenal--seperti salah satunya cinta monyet pertama jaman SD. Hemmm..
Cerita cinta monyet pertama saja pertama kali muncul di SD deket rumah. SD kecil nan sempit dengan murid-murid yang sedikit. Di kelas 1 untuk pertama kalinya aku ketemu dia. My Clark Kent *nama disamarkan untuk kebaikan bersama...hihihhihiii

Ok emang sih dia gak se-cupu Clark Kent atau begitu aku bisa mengingat dia sebagai anak laki-laki berumur 7 tahun. Clark Kent ku tidak berkacamata, berambut kemerahan seperti jerami, kurus, putih banget, dan senyumnya yang bikin meleleh itu. Clark Kent pindahan dari kota paling ujung di pulau sebelah kiri. Tentunya kenyataan kalo dia bukan orang asli Jogja makin bikin Clark Kent menarik. Aku jadi fans diam-diam dari tahun ke tahun, naik kelas 1 ke kelas 2, dari kelas 2 naik kelas 3. Mulai dari beli buku tulis dengan gambar sampul yang sama. Sampai suka lirik-lirik dia waktu jam pelajaran. Sempet juga sih kami berdua dijadiin bahan ejekan di kelas. Tapi gak bertahan lama karena cewek dari SD sebelah yang juga tetangganya mendeklarasikan jadi pacar *jangan pikir berlebihan otak anak umur 9 tahun.

Sayangnya, Clark Kent ku harus kembali ke Planet Krypton. Naik kelas 4 dia nggak lagi menempati ruang kelas yang sama. Pindah sekolah dan kembali ke daerah asal. Waktu itu dia pergi dan ya udah...dahhhh daaahhhh bye-bye. Without saying goodbye or anything. Tapi namanya juga cinta monyet, ya udah--pergi ya pergi aja. Hahahaha...
Namun pernah suatu hari waktu lagi istirahat dan main di lapangan, aku dan sahabat dekat Clark Kent pernah ngobrol sedikit soal dia. Hanya pertanyaan kenapa dia pisah nggak bilang-bilang semua teman-teman sekelas. Dijawab karena buru-buru. Dan si sahabat bilang kalo Clark Kent sebenernya suka sama aku.
Wow...tidak menyangka--dan tidak percaya. Serius! Aku tidak percaya beneran waktu itu. Ku pikir juga dikerjain. Toh Clark Kent sudah pergi dan nggak bisa ditanyain juga. Siang itu aku tercenung. Pertama kalinya merasa sangat menyesal gara-gara orang yang kita suka. Sampai siang hari itu aja karena nggak lama aku kembali lagi biasa. Namanya juga anak-anak. It's easy love.

Dan aku bertambah besar, tahun ke tahun semakin dewasa. Clark Kent terlupa lalu diganti dengan tokoh-tokoh lain yang muncul dalam hidupku. Nggak keinget lagi soal dia. Cuma sebentar mengingat ketika Desember 2006 saat tsunami menerjang Planet Krypton-nya. Kepikiran juga gimana keadaanya, apalagi bencana cukup besar yang menelan banyak korban. Saat itu aku menulis di buku harian. Mengucap doa untuk dia dan planetnya. :)

Lalu 2009. Dunia keranjingan dengan facebook. Lalu band Gigi bikin lagu cinta tentang jejaring sosial yang mempertemukan cinta lama. Pertamanya, agak sinis menanggapinya karena aku adem ayem aja dengan facebook dan teman-teman dunia mayaku. Sampai akhirnya...Clark Kent come back to my life. Wohooo...

Saya menemukan Clark Kent add me as a friend. Menyapa dengan hangat. Wall-to-wall cukup seru dan meyakin, menyenangkan karena dia ingat aku tinggal dimana, keadaan Jogaj, dan dia makin menawan. Ketika menemukannya di Facebook rasanya pengen loncat-loncat gila. Meski hanya sebatas disana saja. Tetap, tidak ada yang berubah. Tidak ada cerita lanjutan hingga sekarang. Namanya juga cinta monyet. Ada banyak seandainya yang ku pikirkan tentang Clark Kent. Tapi semua itu sudah ku masukan ke dalam loker hatiku, menguncinya, lalu pergi meninggalkannya. Inilah masa sekarang ku. Kenyataan ku sekarang.

Bye-bye Clark Kent, you just can't be my Superman :)