Showing posts with label i see around. Show all posts
Showing posts with label i see around. Show all posts

Wednesday, January 1, 2014

Tentang Jogja yang berlalu lintas

Minggu pagi sungguh tepat untuk menikmati hari dengan berselancar menyusuri sosial media. Sembari asyik menyelami drama korea yang belakangan ini aku ikuti, ada sebuah foto menarik muncul di lini masa Facebook.
Sumber: FB disini
Foto tersebut menunjukkan kegiatan 'Jogja Last Friday Ride' pada tanggal 25 September 2013 yang lalu. Foto itu muncul dalam sebuah page diskusi mengenai kemacetan yang terjadi selama hampir 90 menit di perempatan tugu. Dalam diskusi tentu saja ada yang pro dan kontra. Wajar.
Ada yang menyuarakan pendapat bahwa boleh-boleh saja melaksanakan kegiatan komunal macam itu tetapi jangan sampai membuat pengguna jalan lain merasa terganggu karena aktifitas 'bersepeda'. Sementara seorang aktifis kenalan saya langsung bereaksi keras sebagai representasi bahwa orang-orang bersepeda tidak memiliki ruang bagi mereka dan balik menunjuk pengendara motor di Jogja belakangan ini makin menggila. Diskusi makin ramai, tentu saja.

Melihat foto dan diskusi yang sedang panas dibahas ini malah membuatku ingin bercerita.

Saya orang Jogja yang baru-baru ini memiliki kendaraan bermotor sendiri (baca: motor). Selama hampir 15 tahun, saya melakukan mobilisasi naik sepeda ataupun bis. Baru setelah lulus kuliah, motor menjadi pilihan karena kesibukan kerja dan tempat-tempat yang terjangkau oleh transportasi publik di Jogja. Naik motor di Jogja inipun seperti berada di tengah medan perang. Biasa mengutuki para pengendara motor yang kurang ajar membuat saya membuat self note bahwa saya nggak boleh jadi pengendara motor yang saya sendiri pernah maki-maki ketika naik bis kota dulu. 

Berat hati sebetulnya saya beralih dari penumpak transportasi publik menjadi pengendara kendaraan 
Tak jemu-jemunya saya mengatakan bahwa kesemrawutan lalu lintas di Jogja terjadi karena ketidak mampuan pemerintah kota mengelola transportasi massal yang representatif. Disamping pula mengenai kebijakan pembelian kendaraan bermotor seharusnya lebih diperketat lagi, baik motor maupun mobil.

Ruang lalu lintas di Jogja seharusnya terbuka bagi siapa saja. Namun bukan berarti menjadikan penggunanya sebagai raja jalanan. Patuhi rambu, jadi pengendara yang bijak. Semua membutuhkan ruang tetapi masing-masing harus dapat saling menghormati.

Jangan sampai Jogja terjebak menjadi kota dengan kemacetan luar biasa. Masih ada harapan untuk itu! 

Monday, November 12, 2012

Pesta Demokrasi

If you're not vote, you can't complain - Aerosmith
Saya mendengar kalimat tersebut tatkala tv berita menyiarkan tentang Band Aerosmith yang mengeluarkan album teranyar mereka pada tanggal 6 November 2012 yang juga bertepatan dengan pemilu presiden Amerika. Album mereka keluar bukan dalam rangka kampanye politis--mereka tidak memihak namun tetap mengajak warga Amerika untuk memilih dan menyumbangkan suara demi negara.

Ya benar, jika kamu tidak menggunakan hak pilih mu maka kamu tidak boleh mengeluh. Pernyataan mereka sungguh menggelitik untukku. Hal itu berarti membenarkan diriku untuk dapat mengeluh pada kinerja pemerintah yang katanya telah dipilih di negara ini dengan demokrasi. Apapun pilihannya, entah memilih presiden yang sekarang atau pun yang berbeda. Kita boleh mengeluh pada kinerja pemerintah yang katanya juga telah diberi amanat oleh rakyat untuk dapat memajukan negara.

3 tahun pemerintah baru yang terpilih ini telah berjalan. Menuju pemilihan presiden yang akan diselenggarakan tahun 2014 nanti, semua orang nampaknya juga pasang badan sejak hari ini. Ada saja berita tokoh ini, tokoh itu, pemimpin ini, pemimpin itu, parpol ini, parpol itu. Semua orang mengeluh atas kinerja presiden yang sekarang. Banyak yang tidak puas, entah karena katanya politik pencitraannya yang bikin muak masyarakt. Lagi-lagi kita mengeluh, karena korupsi justru malah makin terang-terang dipraktikan tidak punya malu lagi. Sudah berapa banyak komplen kita kepada negara ini dibandingkan dengan pujian atas kinerja pemerintah yang sudah berjalan ini selama ini? Tapi rasanya keluhan kita justru tidak membuat perubahan apapun. Politik negeri ini masih saja seperti ini. Monoton dan menyebalkan.

Apakah nanti datang saatnya, seorang pemimpin yang membuat kita tidak akan pernah mengeluhkan kepemimpinannya hadir di negara ini? Yang pasti saya harap, orang itu bukan politisi kacangan seperti yang di televisi. Namun sosok orang yang akan membuat kita simpatik--dibanding mengeluh kita akan bekerja sama dengan pemimpin tersebut dengan tidak mengeluh. 

Thursday, March 8, 2012

Kontemplasi Sebelum Tidur

Sebetulnya saya sudah mau bablas tidur karena buru-buru ingin segera mengganti hari ini. Akan tetapi, kenangan datang tanpa permisi dalam satu kedipan mata ketika malam semakin merayap gelap. Selalu begitu. Saat sedang bengong dengan pikiran random saya--yang biasanya nggak terlalu penting seperti besok pengen pakai baju apa, tiba-tiba saja I'm having a moment. Saya teringat dengan sahabat baik saya yang sekarang sudah hijrah ke ibukota untuk bekerja, bersamaan dengan kenangan paling awal kami dapat berkawan sekental ini. Lalu, disitulah banjir kenangan saya tentang sahabat-sahabat. 

Di posting sebelum-sebelum ini saya pamer sedikit tentang persahabatan kami yang sudah sewindu itu. Nah, gara-gara kenangan nostalgia ini, saya jadi ingat memori lawas awal pertama kali kami mulai "bersahabat" yang dalam artiannya, dimana kami mulai sering main bareng, jalan-jalan, curhat, dll. 

Disitulah, malam ini saya teringat untuk pertama kalinya kami semua janjian untuk nonton film di bioskop lama (bukan jaringannya 21cineplex). Saya teringat, bagaimana perjalanan naik bis berdua dengan (calon) partner in crime saya waktu itu. 2 cewek tomboy, dengan gaya kayak mbah dukun (si sahabat pake kaos tanpa lengan kayak mbah dukun dan saya pake' jaket item seperti asisten mbah dukun), keduanya berambut sama-sama jabrik waktu itu, cuek dan nggak ada cakep-cakepnya sama sekali. Kilasan kenangan bergulir, ketika akhirnya kami batal nonton karena antrean panjang yang tidak memungkinkan untuk dapat tiket, lalu satu rombongan memutuskan untuk nongkrong saja di rumah salah satu kawan yang paling dekat dengan gedung bioskop. Seperti biasa ketika kami semua berkumpul yang ada hanya ketawa-ketiwi nggak karuan. Entah menertawakan hal apa. Yang bisa saya lihat hanya di dalam kenangan itu kami semua tertawa lebar tanpa beban, galau paling mentok kami hanyalah seputaran PR Kimia yang nggak bisa dikerjain dan cowok cakep dari kelas sebelah. 

Saya menertawakan kenangan tentang persahabatan kami selama SMA. Perjalanan yang lagi-lagi terasa seperti mimpi. Menengok kami semua yang masih bersekolah dulu rasanya tiada duanya, sekarang ini aku melihat kami semua sudah menapaki jalan masing-masing. Semua telah berpindah menuju jalan masa depan masing-masing. Kami yang polos dan naif dulu itu kini berganti menjadi orang yang lebih dewasa. Dulu kami sekedar anak-anak ingusan yang sering bikin jengkel guru, namun sekarang seorang teman bahkan mulai melangkah maju membangun rumah tangganya sendiri. 

Rasa takut menjadi dewasa kadang masih saja membayangi. Jelaslah, saya sendiri tidak yakin dengan masa depan yang agak absurd. Terbiasa dipilihkan jalan, sekarang kadang rasa takut menggerogoti tatkala harus memilih masa depan saya sendiri. 

Pada titik ini, saya cuman bisa ketawa. Andai hidup hanya sekedar mengkhawatirkan gimana caranya bikin contekan untuk ulangan kimia saja :p

Monday, January 23, 2012

Poked by Reality

Semesta seolah menjawil ku lewat seorang teman yang berkata "Jogja sepi ya, kita ditinggal teman-teman yang lainnya". Dengan diplomatis dan sedikit perih ku jawab, "Memang seharusnya kita juga bekerja bukannya malah seperti sekarang ini."
Aku punya 5 sahabat dekat yang sudah ku kenal semenjak SMA. Mereka yang terbaik. Tempat ku berbagi keluh kesah hingga bahagia. Satu persatu tentu saja telah menempuh jalann menuju masa depan. "Jogja menjadi sepi" itu hanya sebatas ungkapan bahwa meski kami masih berada di tempat yang sama namun arah kami telah pergi. Seorang teman yang pertama kali memutuskan untuk memilih jalan yang jauh berbeda dari kami, bekerja layaknya orang dewasa 7-8 jam kerja sementara kami berlima memutuskan untuk melanjutkan kuliah. Berikutnya, seorang kawan hengkang menuju Semarang melanjutkan studinya. Tahun 2011 ini, tiga sahabat ku lulus kuliah. Sudah ada yang kerja di Bank dan satu lagi hijrah ke Jakarta ingin berkarya di televisi. Yang seorang lagi sedang menunggu untuk sekolah ke program Master.
Aku? Lulus pun belum. Berpikir tentang masa depan rasanya tidak ada yang terbayang dibenak ini. Seharusnya aku memang sudah pergi tetapi aku tertinggal. Mau sampai kapan? *ini sedang dibikin petanya mencari jalan keluarnya #wacana

Selamat Pagi

Ketika terjaga pagi ini, otak rasanya sudah memburu untuk berpikir. Aku ingin membuat sebuah peta besar kehidupan ku. Memetakan tujuan hidup dan melakukan sesuatu yang "besar" maknanya untuk dunia ini.
Sounds so amazing, ha? Tunggu saja, 1-2 hari pasti mimpi besar ku sudah hilang bagai kepulan asap. Aku ini perancang mimpi paling produktif. Hampir tiap waktu otakku bekerja keras untuk merancang mimpi-mimpiku yang hanya hidup dalam kepala. Aku produktif merancang tapi tidak pernah dapat mewujudkannya dalam kenyataan. Yes! I am the worst dreamer.
Aku lah contoh dari seorang pemimpi gagal. Malas. Selalu saja jadi penyakit yang tak kunjung sembuh dalam diriku. Bagaimana ya caranya mengenyahkan rasa malas yang lama-lama rasanya semakin akut menyangkut dalam diri ku.
Namun, pagi mendung di bulan September, aku menerawang masih dalam setengah tertidur bahwa aku ingin menciptakan versi diriku yang lebih keren dari hari kemarin. Versi diri yang ku membanggakan untuk diri ku sendiri dan ibuku.
"Bismillah.."seperti kata penyanyi Nasyid, semua harus dimulakan dengan menyebut Tuhan.

Thursday, March 10, 2011

move along with mine

Kamu akan menemukan seseorang yang tidak akan pernah pergi ketika perayaan pesta berakhir hanya untuk sekedar membantu beres-beres piring, atau seseorang yang akan mengajakmu berbincang hal-hal remeh, dan mereka yang akan tinggal lebih lama dalam hidupmu untuk sekedar berbagi cerita.

Para sahabat yang telah lama tinggal dalam kehidupanku. Menemukan mereka yang setiap harinya berubah namun tetap sama. Menerima mereka dalam perjalanan kehidupan ini dalam ruang yang jauh lebih lebar dari siapapun.

8 tahun. Hanya sekedar angka. Sebagai penanda saja bahwa kami memang telah lama bertemu dan berteman. Kemarin kami hanyalah anak SMA nyebelin, hari ini kami adalah orang dewasa tanggung--ada yang udah mau nikah, ada yang anti-nikah, ada yang mau kerja, ada yang belum lulus kuliah, lalu esok hari kami adalah...? Siapa yang tahu masa depan. Seperti kami yang tidak pernah membayangkan 8 tahun akan bersahabat--mengarungi waktu bersama. Mungkin akan ku jawab, esok kami adalah individu yang berbeda dari hari ini namun kami terbentuk dari hari ini. Dan persahabatan kami akan terus berlanjut. Hingga nanti..


Sunday, February 13, 2011

So listen to the radio

Malam ini saya ketemuan dengan beberapa teman, asyik jalan-jalan menikmati Yogya yang ruwet dan macet--karena liburan panjang ini. Dalam perjalanan pulang balik, kami sempet ngobrol-ngobrol seru membahas ke-alay-an jaman dulu. Gara-gara inilah saya jadi mengenang salah satu item dari ke-alay-an kami--generasi yang lahir di akhir era 80-an, adalah radio.

Ketika saya menginjak usia belasan, yaitu pada sekitar tahun 99-an, saya mengenal radio sebagai alat paling keren. Saat itu, saya masih duduk di kelas 6 SD, kesukaan baca buku cerita Lima Sekawan, dan saban sore nongkrong chanel radio EMC yang menyiarkan lagu anak-anak dinyanyikan Chikita Meidy, Trio Kwek-Kwek, Maisy, hingga Ira Maya Sofa. Dari setia nongkrong dengan saluran radio saya mulai mengenal kegiatan ini. Cara berkomunikasi yang paling luar biasa dan pada saat bersamaan menjadi satu tren paling gaul se-jagat raya. Kirim salam di radio.


Waktu itu handphone masih belum banyak orang beli karena harganya selangit. Beda dengan sekarang yang kirim salam lewat sms atau twittter, jaman saya masih SMP kirim salam satu-satunya caranya dengan memakai telpon. Entah menggunakan telepon rumah sendiri, pinjam ke rumah tetangga, hingga niat pergi ke wartel. Makanya, mengirim salam lewat telepon ke kantor radio bisa dibilang jadi uji nyali tersendiri. Terutama rasa malu yang menjadi-jadi sehingga omongan kita jadi belibet sendiri.

Ini pengalaman saya waktu masih SMP dan mencoba mengirim salam lewat radio.
Saya ngeliati telepon sambil menarik nafas dalam-dalam, dihembuskan dengan terburu-buru. Jantung rasanya kayak mau meledak. Saya nervous setengah mati. Entah setan apa yang lewat kok mendadak saya menyambungkan telepon demi kirim salam buat kakak kelas super ganteng yang saya taksir.

Tut...tut...
Operator Radio: Ya, Radio Yasika selamat malam.
Saya: Eeee....eh....ehhh.....mau kirim salam mbak (suara kayak orang kumur-kumur)
Operator Radio: Halo? Halo? Apa mbak?
Saya: Uhukkk...uhukkk...(tangan dingin dan keringatan)
Saya mau kirim salam mbak..
Operator Radio: oh...ya silahkan, untuk siapa mbak?
Saya: untuk Deny K di tempat....
Operator Radio: dari siapa?
Saya: Dari Ayu
Operator Radio: Pesannya apa?
Saya: Salam aja...salam-salaman ya...(????????)

Langsung saya tutup begitu selesai bicara. Dan durasi pembicaraan bisa dipastikan kurang dari 1 menit karena saya ngomong super cepat saking groginya...
Dan ketika si penyiar menyampaikannya on air jadinya malah begini.
"Salam berikutnya yaitu untuk Deny K salam sayang dari Ayu"

Great! Banyolan salam itu berubah karena omongan kumur-kumur yang ditanggapi berbeda. Semalaman saya berdoa semoga gak ada yang satu orangpun temen saya atau orang di sekolah yang engeh akan salam sayang itu. Kalau enggak bisa mampus adek kelas berani naksir kakak kelas ganteng. Dan untungnya di Yogya ini ada puluhan orang bernama Ayu dan Deny serta ada sekitar belasan saluran radio. Dengan segala itung-itungan probabilitas. Saya selamat. No one notice that!

Guilty pleasure saya yang lain dengan radio adalah mendengarkan acara curhat pembaca. Lagi-lagi hal konyol lain yang pernah saya lakukan dengan teman-teman. Buat yang nggak familiar. Di radio ada acara yang disiarkan tiap jam 9 malam membacakan surat-surat yang isinya curhatan para pendengarnya. Naaaa...waktu saya masuk SMA kelas 1, saya dan kedua teman melakukan hal iseng. Mengirim e-mail ke acara tersebut dan bercerita soal cinta. Aku--tokoh yang curhat, anak kelas 1 yang terpesona dengan kakak kelas ganteng yang ikut ekskul baris-berbaris, dan hujan turun terus si kakak kelas dengan gentleman menemani si aku yang menunggu hujan. Dari situ percik-percik cinta muncul dan mereka jadian. Diakhir surat aku minta diputarkan lagu cinta dengan tema yang pas.

Romantis dan fiktif. Sumpah ya, waktu itu kita bertiga hanya iseng. Cerita tulisan pun memang mengambil figur kakak kelas yang betulan ada dengan nama yang sama, namun si aku itu cuma tokoh rekaan kami. Buat iseng. Ternyata keisengan kami pun membuat heboh. Nggak nyangka juga ternyata banyak juga cewek-cewek yang ngedengerin acara curhatan di radio. Karena besoknya temen-temen cewek si kakak kelas cowok dibombardir disuruh klarifikasi cerita "jadian" itu. Bahkan temen-temen sekelas ku pun ikutan menggosip. Wew ternyata...

Banyak sekali kekonyolan yang semua berhubungan dengan radio. Curhatan konyol, salam-salam gila untuk cowok yang ditaksir, ke-eksis-an genk cewek di sekolah. Semuanya pernah dilakukan lewat radio. Rasanya lucu banget kalo mengenang semua itu. Namun memang itulah kesempatan kami untuk konyol dan bertindak gila. Segala pemakluman bisa didapatkan kalo dilakukan oleh remaja. Remaja--muda, naif dan idiot. Hahahaha :D

Sunday, December 19, 2010

Easy Love

Mungkin pikiran sedang kemana-mana sehingga turut juga membawa perasaan bagaikan kapas-kapas yang melayang di udara. Semuanya jadi kemana-mana. Entah kenapa, seperti pemikiran atau ide selalu pop-up kapanpun. Disaat yang tepat maupun tidak.

Ini gara-gara Facebook dengan jejaring laba-labanya yang membuat kita selalu bikin ketemu orang-orang yang dikenal--seperti salah satunya cinta monyet pertama jaman SD. Hemmm..
Cerita cinta monyet pertama saja pertama kali muncul di SD deket rumah. SD kecil nan sempit dengan murid-murid yang sedikit. Di kelas 1 untuk pertama kalinya aku ketemu dia. My Clark Kent *nama disamarkan untuk kebaikan bersama...hihihhihiii

Ok emang sih dia gak se-cupu Clark Kent atau begitu aku bisa mengingat dia sebagai anak laki-laki berumur 7 tahun. Clark Kent ku tidak berkacamata, berambut kemerahan seperti jerami, kurus, putih banget, dan senyumnya yang bikin meleleh itu. Clark Kent pindahan dari kota paling ujung di pulau sebelah kiri. Tentunya kenyataan kalo dia bukan orang asli Jogja makin bikin Clark Kent menarik. Aku jadi fans diam-diam dari tahun ke tahun, naik kelas 1 ke kelas 2, dari kelas 2 naik kelas 3. Mulai dari beli buku tulis dengan gambar sampul yang sama. Sampai suka lirik-lirik dia waktu jam pelajaran. Sempet juga sih kami berdua dijadiin bahan ejekan di kelas. Tapi gak bertahan lama karena cewek dari SD sebelah yang juga tetangganya mendeklarasikan jadi pacar *jangan pikir berlebihan otak anak umur 9 tahun.

Sayangnya, Clark Kent ku harus kembali ke Planet Krypton. Naik kelas 4 dia nggak lagi menempati ruang kelas yang sama. Pindah sekolah dan kembali ke daerah asal. Waktu itu dia pergi dan ya udah...dahhhh daaahhhh bye-bye. Without saying goodbye or anything. Tapi namanya juga cinta monyet, ya udah--pergi ya pergi aja. Hahahaha...
Namun pernah suatu hari waktu lagi istirahat dan main di lapangan, aku dan sahabat dekat Clark Kent pernah ngobrol sedikit soal dia. Hanya pertanyaan kenapa dia pisah nggak bilang-bilang semua teman-teman sekelas. Dijawab karena buru-buru. Dan si sahabat bilang kalo Clark Kent sebenernya suka sama aku.
Wow...tidak menyangka--dan tidak percaya. Serius! Aku tidak percaya beneran waktu itu. Ku pikir juga dikerjain. Toh Clark Kent sudah pergi dan nggak bisa ditanyain juga. Siang itu aku tercenung. Pertama kalinya merasa sangat menyesal gara-gara orang yang kita suka. Sampai siang hari itu aja karena nggak lama aku kembali lagi biasa. Namanya juga anak-anak. It's easy love.

Dan aku bertambah besar, tahun ke tahun semakin dewasa. Clark Kent terlupa lalu diganti dengan tokoh-tokoh lain yang muncul dalam hidupku. Nggak keinget lagi soal dia. Cuma sebentar mengingat ketika Desember 2006 saat tsunami menerjang Planet Krypton-nya. Kepikiran juga gimana keadaanya, apalagi bencana cukup besar yang menelan banyak korban. Saat itu aku menulis di buku harian. Mengucap doa untuk dia dan planetnya. :)

Lalu 2009. Dunia keranjingan dengan facebook. Lalu band Gigi bikin lagu cinta tentang jejaring sosial yang mempertemukan cinta lama. Pertamanya, agak sinis menanggapinya karena aku adem ayem aja dengan facebook dan teman-teman dunia mayaku. Sampai akhirnya...Clark Kent come back to my life. Wohooo...

Saya menemukan Clark Kent add me as a friend. Menyapa dengan hangat. Wall-to-wall cukup seru dan meyakin, menyenangkan karena dia ingat aku tinggal dimana, keadaan Jogaj, dan dia makin menawan. Ketika menemukannya di Facebook rasanya pengen loncat-loncat gila. Meski hanya sebatas disana saja. Tetap, tidak ada yang berubah. Tidak ada cerita lanjutan hingga sekarang. Namanya juga cinta monyet. Ada banyak seandainya yang ku pikirkan tentang Clark Kent. Tapi semua itu sudah ku masukan ke dalam loker hatiku, menguncinya, lalu pergi meninggalkannya. Inilah masa sekarang ku. Kenyataan ku sekarang.

Bye-bye Clark Kent, you just can't be my Superman :)

Sunday, October 17, 2010

Konversasi Hari Minggu

Minggu pagi, 17 Oktober 2010.
Mata masih penuh dengan lem blobok, sisa-sisa iler semalam, nyeri sariawan di tenggorokan yang entah kapan sembuhnya, rambut pun masih acak-acakan. Pagi di hari Minggu yang lain untuk bersantai dengan keluarga--kebetulan kakak perempuan pulang kampung. Kegiatan pagi dimulai dengan mengirim pesan elektronik ke sahabat yang besok mau dipendadaran. Atau begitu rencananya dalam minggu ini.

Cerita bergulir, canda tawa biasa. Saling mengejek juga sudah biasa. Begitulah berkawan dengannya kami bak sepasang kekasih tak saling mengasihi. Oppsss, biar tidak salah sangka lagi--saya dan partner in crime saya ini sama-sama perempuan. Bersahabat dengan spesimen dari jenis kelamin yang sama adalah hal yang terbaik dalam hidup saya.

Begitulah, hari Minggu pagi--dengan bau naga dari mulut yang menguar kami berbagi cerita. Pembelaan soal cerita cinta saya yang terdramatisir. Saya selalu bahagia dengan proses--bersamanya di dalam cerita kami. Entah happy ending atau tidak. Aku tidak lagi berharap. Tidak ada lagi yang digantungkan, tidak ada lagi drama, tidak ada lagi derai kisah dongeng. Saya mencoba menjadi realis yang menghadapi hari demi hari, setelah semuanya, belajar lagi bersentuhan dengan kenyataan, dan lebih mencintai lagi diri sendiri.

Hidup kadang tidaklah terlalu istimewa. Yang spesial hanyalah sinetron kejar tayang setiap malam. Aku, terkadang ingin se-istimewa itu seperti para aktor yang selalu mendapatkan kisah cerita sempurna penuh dengan kejutan.

Namun, perbincangan kami--saya dan sahabat via pesan elektronik, adalah drama yang kami lakoni. Biasa. Konversasi hari Minggu tentang kehidupan kami, friksi biasa, drama yang datar, dan Ayu Dipta Kirana yang sedang mencoba jadi seorang realis.

Selamat Hari Minggu!
:)

Saturday, June 12, 2010

Pereng: Suatu Kehidupan Yang Lain

Sebetulnya sudah lama sekali ingin menuliskan cerita ini. Tapi gara-gara jadwal padat dan another journey waiting, harus ditunda dulu. Hanya sekedar tulisan simpel untuk kenang-kenang bahwa eksistensi suatu pengalaman yang priceless bisa didapatkan dari mana saja. Termasuk dari satu kegiatan yang pada awalnya begitu ku benci.

Aku benar-benar mengeluh di awal pertama kali harus memulai kegiatan ini. KKN--Kuliah Kerja Nyata, yang selalu ku pikir akan sangat merepotkan. Habiskan waktu 2 bulan untuk tinggal jauh dari peradaban. Namun 2 bulan itu nyata seperti suatu kehidupan yang lain. Waktu di Desa bagaikan berdetak sangat lambat. Aku merasa seperti berada di dunia lain. Tanpa teknologi canggih, jauh dari buku-buku ilmiah--apalagi skripsi, dan jauh dari tempat bernama rumah. Awalnya aku betul-betul homesick disana. Bertemu dengan mereka, yang tidak ku kenal sebelumnya. Yang tidak pernah ku sangka adalah bersama mereka benar-benar tanpa masalah. Padahal dari awal sejak berangkat aku selalu menyiap mental dan cadangan mood kalo sewaktu-waktu bakalan ada orang yang reseh. Thanks God, for put me in there with all that stupid guys!
Meski aku tidak dapat meluruh bersama namun mereka jadi yang terbaik untuk didapatkan. Saya masih ingat ketika akhirnya harus keluar dari sana diiringi dengan tangisan perpisahan. Sedih namun dunia tetap berjalan. Aku kembali pada realita.

Pereng bagaikan satu kehidupan lain. Seperti mimpi yang membuat kita ingin lagi bertemu dan terbuai olehnya. Terbungkus oleh dimensi waktu yang berbeda. Dimana aku banyak belajar pemahaman dengan sudut pandang yang berlainan sisi. Waktu tidak bergerak, seolah melambat, dan aku menikmatinya. Bahkan sempat terbawa manisnya waktunya. Seolah lupa.

Aku tidak menyukai suatu awal dari perjumpaan, tidak pula menyukai akhir dari perjumpaan. Yang ku sukai adalah waktu diantara keduanya--dimana aku berproses didalam sana.

Monday, March 8, 2010

Fairy Tale

Saya lagi mood buat ngomongin soal cinta-cintaan nih. Mungkin suasana belakangan ini sangat mendukung ya? Ada ceria bahagia juga yang terjadi di lingkungan sekitar yang memungkin untuk menyulut mood merah jambu begini. Kabar bahagia datang dari salah seorang saudara saya yang akhirnya menikah juga. Setelah 25 tahun menunggu akhirnya happy ending juga. Congrats.

Berita ini tentu jadi topik panas yang dibicarakan di keluarga. Maklumlah semua orang memang sudah sejak lama mengikuti sepak terjangnya. Butuh waktu yang sangat lama sekali untuk memenangkan ronde yang berat ini. Ada sekelumit rasa damai yang ku rasakan ketika mendengar kabar gembira ini, bahwa fairy tale dan jalan jodoh mungkin betul-betul ada. Bahwa penantian 2 orang itu mungkin betulan bisa terwujud. Cinta mungkin harus menunggu lama sampai 25 tahun untuk menemukan tempatnya berpulang. Ohhh so sweet.

Rasanya tidak percaya juga bagaimana permainan situasi dan takdir yang terjadi, yang ku bayangkan pasti sudah banyak tangis air mata--bahagia dan sedih bercampur aduk dalam waktu yang sangat panjang. Dan mendapatkan akhir yang bahagia tentu tidak semua orang dapat mengalaminya. Tidak semua orang bisa bertahan dalam waktu yang lama itu. Tidak semua orang dapat memilih satu kegilaan besar untuk menunggu selama seperempat abad itu. Waktu itu tidak lagi 500 hari. Sebuah perjalanan panjang untuk sebuah cinta. Dan kenyataan bahwa mungkin jodoh itu tidak akan bisa lari kemana rasanya tepat banget.

Well, jujur saja, cerita ini membuatku senang sekaligus terpaku. Seandainya aku bisa memiliki perasaan sedalam itu. Rasanya ya senang namun juga takut. Mungkin dia adalah seseorang yang sudah kehilangan rasa takut untuk terus mencoba. Apapun itu akhirnya yang dinanti akhirnya kembali.

Hahaha :D

Sunday, February 21, 2010

Bad Story

Beberapa hari belakangan ini ada kejadian heboh di lingkungan sekitarku. Sebetulnya aku pengen menceritakan kisah yang menyenangkan--at least some happy ending story. Tapi sayangnya bukan. Kejadian heboh ini berasal dari salah seorang temen maen saya waktu kecil yang menculik keponakannya sendiri demi uang 10 juta. Berita itu sempat heboh dimana-mana dari koran lokal hingga tv nasional pun turut meliput kejadian tersebut sehingga mau tidak mau ceritanya heboh dan tersebar hingga kemana-mana. Jejaring sosial pun jadi tempat tercepat untuk saling bertukar informasi.

Sedih juga rasanya mendengar berita itu. Awalnya saya kepengen nggak percaya tapi kok penasaran dan akhirnya memang fakta yang berbicara. Bukan cerita yang mengenakkan apalagi datang dari seseorang yang kita kenal dengan baik. Sebagai teman sejak kecil dan juga pernah tetanggaan selama bertahun-tahun tentu saja saya mengenal seluruh keluarganya dan historisnya. Bisa dibilang teman baik semenjak kecil.

Rasanya saya pengen tanya padanya, 'apa yang ada dipikiranmu hingga melakukan itu?' bukan dengan nada memojokkan tetapi sekedar pertanyaan murni hanya ingin tahu. Bukankah sungguh menyakitkan rasanya apabila kita melukai perasaan keluarga kita sendiri. Mungkin hidup yang dia pilih begitu berat rasanya untuk dijalani hingga memutuskan mengambil jalan pintas yang mudah kelihatannya. Saya nggak tau, karena bukan jadi seorang teman yang baik bagi dia untuk menyandarkan masalah. Hidup terasa sangat berat untuk seorang perempuan berusia 21 tahun dengan seorang anak tanpa suami? Tentu saja. Mungkin pula tekanan keluarga dan tetek bengek lain yang hanya dia sendiri yang tahu.

Well, mate. Be strong. Don't doing that stupidity again.
Kesempatan kedua akan selalu diberikan Tuhan kepada makhlukNya yang bertobat.
Saya selalu percaya ada kesempatan kedua untuk segalanya.

Wednesday, February 17, 2010

Pop Up!

Waktu dulu jaman SMP, setelah murtad dari ekskul badminton kemudian saya berpindah aliran menuju ekstrakulikuler teater. Dari olahraga jasmani menuju olah raga dan jiwa. Ekstrakulikuler teater sendiri, awalnya bentukan dari mas-mas KKN-PPL di sekolah saya saat kelas 1 smp. Dipimpin kakak yang paling yahud sekelompok KKN-PPL itu sebutlah namanya yang tidak yahud itu mas Jonet. Dia ini otak dari kegiatan teater di SMP saya hingga berhasil menyelenggarakan satu buah pertunjukan puisi. Cuma satu aja, soalnya selepas KKN-PPL selesai, otomatis bubar jugalah kegiatan yang tidak resmi itu.

Namun, selama beberapa saat saya suka sekali dengan kegiatan itu. Mungkin, ada sedikit bakat alam dimana saya suka sekali menyelami berbagai macam emosi. Dan kegiatan seni tidak melulu hanya deklamasi namun upaya sebuah pengenalan karakter dan membidani ragam macam olah jiwa. Ok, kayaknya terlalu berlebihan karena saya hanya sebentar berkecimpung di dunia teater itu. Akan tetapi pengalaman itu cukup mengena di hati.
Oleh mas Jonet, saya dan beberapa teman dekat yang tertarik nyebur di teater, diajari berbagai macam teknik. Mulai dari pernafasa, penyelaman lakon, dan artikulasi suara. Salah satu pelajarannya adalah meningkatakan daya konsentrasi dalam teknik pernafasan. Kita diajari seperti bermeditasi, mengambang dalam kesunyian namun harus berkonsentrasi dengan baik agar tidak gampang pecah. Disela-sela 'meditasi' kadang mas-mas itu tadi kadang mencoba memusatkan konsentrasi dengan bercerita. Bahkan ada satu orang yang namanya paijo malahan menyuruh kita berlatih di rumah dalam bentuk perenungan.
"Bayangkan saja, ketika kalian berbaring saat hendak tidur di malam hari, sembari menatap langit-langit kamar yang gelap. Perlahan-lahan kalian akan teringat kembali perjalanan hidup kalian. Bahkan tak jarang kalian akan menangis. Pada saat itulah diri kalian akan menjadi sangat rapuh dan kecil dalam kegelapan."
Wow, kata-kata yang hebat sekali. Namun ketika ku praktekan yang ada hanya dalam waktu 5 menit saja saya sudah terlelap. Tidur nyenyak. Tidak pernah satu kalipun berhasil. Ya iyalah, memang perjalanan hidup macam apa yang sudah dialami oleh anak umur 13 tahun? PR Matematika, ujian naik kelas, nggak mau temenan sama si B, naksir si D. Paling banter kalo inget masa lalu adalah mendapat nilai bagus ketika lulus SD.
Ketika itu saya tidak pernah mengerti omongan mas-mas itu deh. Pertobatan macam itu ku rasa tidak akan dialami oleh anak kelas 1 SMP. Hehehe..
Tapi, itu satu fase yang menarik dalam hidupku dan aku teringat saat-saat itu sekarang, ketika aku berumur 21 tahun, tengah memandang langit-langit rumahku dalam kegelapan karena listrik mati. Perkataan itu baru ku pikirkan sekarang. Dan salah satu scene masa lalu tiba-tiba melesat keluar--pop up, dalam kepala ku. Muncul tiba-tiba hingga membuatku tersenyum. Saat inilah, mungkin adalah waktu dimana sudah waktunya saya banyak melamunkan masa depan dan masa lalu secara bersamaan. Membayangkan banyak hal yang sudah terjadi di belakang dan belum terjadi keesokan harinya. Perasaanku begitu random. Melompat-lompat karena terkadang senang, bahagia, sedih oleh kenangan-kenangan juga pemikiran yang membelit otak.
Hanya sebentar saja saya ikut teater. Sedikit pula pengalaman untuk pentas. Di SMA pernah sebentar ikut namun karena ketidak cocokan jadwal membuat saya tidak bisa bergabung lebih lama. Sampai sekarang saya masih suka drama, teater, dan sedikit seni. Hanya penikmat, bukan kritikus, pemain, apalagi pemikir di dalamnya. Namun saya masih memainkan drama hidup saya--tidak sedramatis sinetron, hanya sebiasa drama hidup yang lainnya.

Tuesday, February 9, 2010

Stagnan

Bekerja?
Apakah ini rasanya?

Mungkin hanya sedikit yang baru terasa, namun rasanya sudah mengumpul di kepala.
Bukan perasaan memuakkan sebetulnya, akan tetapi rasa yang sulit.
Sulit untuk diuraikan karena ujung-ujung benang yang saling tarik-menarik.
Aku juga tidak punya keberanian.
Selesai satu hal, tambah satu hal lain.

Lalu, rumah bagaimana kabarmu?
Hal yang selalu membuatku merasa sangat bersalah.
Semuanya tidak masalah tetapi tidak untuk yang satu ini.

Hah. Rasanya tidak bisa berpikir. Ingin mengambang tapi tetap saja terpancing.
Tapi aku takut..
tidak lagi peduli,
tidak lagi berpikir netral,
tidak lagi bersikap sabar
tidak lagi nyaman

Kecil sekali..sangat kecil..hal sepele..

Fight!

Wednesday, December 30, 2009

Drama Brutal

Berita ini sampai ditelinga--agak kelewat lama namun tetap membuat terhenyak. Cerita itu muncul di koran-koran beberapa waktu belakangan ini namun baru belakangan ini aku mengetahui bahwa korban pemuda yang meniggal di bunuh itu adalah adik kelasku SMA. Anak angkatan 2009 yang baru sebentar melangkah keluar ke dunia remaja, baru sebentar menanggalkan seragam abu-abunya, baru sebentar menjadi mahasiswa belagu ala anak muda semester pertama. Dia meninggal karena dibunuh oleh anak SMA yang merupakan anak genk sekolah yang jadi musuh sekolah kami. Kenakalan ala remaja tanggung. Tawuranlah, berantem sehabis sepulang sekolah, sekedar hajar sana hajar sini.

Yang membunuh justru yang masih anak sekolahan. 17 tahun dan dia sudah menghilangkan nyawa orang lain hanya karena..apa?
Pride yang dijunjung atau...apa?

Kejadian ini merupakan sebuah pelajaran yang penting. Refleksi pembentukan mental pemuda-pemuda Indonesia jaman sekarang. Bagaimana caranya membuat orang-orang yang jadi tunas bangsa ini tetap sehat otaknya dan tetap bersih hatinya. Atau apakah 12 tahun wajib belajar di sekolah hanya sekedar untuk bertarung di jalanan ala Fight Club. Tidak memungkiri, bukan karena dendam pribadi yang jadi penyebab drama brutal ini terjadi. Bisa jadi kedua belah pihak juga salah, dendam sekolah yang ya-ampun-it's-so-last-year memicu terjadi sentimen antar sekolah.

Lalu, mereka yang menjadi pendukung aksi untuk mengusut tuntas kasus oembunuhan ini membuat akun facebook. Di situs jejaring yang memulai pertengkaran--yang berbuntut pembunuhan inilah akhirnya juga menjadi salah satu tempat mereka untuk menunjukkan bahwa orang-orang melihat dan mengawasi segalanya. Situs jejaring yang paling ampuh masa kini menjadi tempat mereka bertemu dan berpendapat. Banyak provokasi hanya tinggal menuggu orang-orang nekad untuk berbalik membalas dendam atas segalanya. Orang bicara untuk menghukum mati lah, hajarlah..dan kita tampaknya bener-bener ingin cepat mengganti orang tersebut lalu. 'Mata dibayar mata'
yang kupikirkan sekarang bagaimana membuat lingkaran samsara ini putus?

Apa yang ingin ku katakan adalah mari kita bercermin. Melihat diri sendiri dan menjaga agar kemurnian hati tetap menjadi milik kita sendiri.

Goodbye, lit'brother just rest in peace wherever you are..

Friday, December 4, 2009

Taman Bermain.

Ketika berumur sekitar 6 atau 7 tahun--atau ketika ingatanku masih terbatas ala kadarnya, aku teringat masa-masa masih bersama dengan Bapak. Sering kali dalam beberapa kesempatan kami sering diajak oleh Bapak bermain di kantornya. Bapak bekerja sebagai dosen Arsitektur di UGM. Belakangan ini aku baru tahu ternyata pekerjaan cukup banyak, dan ternyata pekerjaannya memakan waktu hingga larut malam.

Bermain di tempat orang tua bekerja merupakan satu pengalaman tak yang membekas sangat baik. Bayangkan saja, kadang dalam acara jalan-jalan kantor Bapak jadi salah satu tempat tujuan kami. Misalnya, malam minggu selepas makan malam bingung mau kemana malah kita mampir ke kantor Bapak. Buatku yang masih kecil, tentu hal itu sangat menarik dimana kita merasakan dunia orang dewasa bekerja. Ada banyak tumpukan kertas, papan tulis besar dengan bermacam-macam spidol, rautan mesin, tempelan magnet, hingga kulkas kecil yang berisi minuman soda. Dunia pekerjaan yang semua dibuat kaku, berantakan, dan serius namun malah jadi taman bermainku. Aku cukup menyukainya, mengunjungi kantor Bapak yang berupa sebuah meja besar dengan penuh tumpukan buku dan kertas dimana-mana. Maklum saja tukang gambar. Jelas karena perasaan bangga pada Bapak dengan pekerjaannya--yang dulu belum betul-betul ku mengerti.

Yah, hanya sekedar kebanggan anak kecil :)

Tuesday, September 22, 2009

Minyak Tawon

Suatu hari, waktu buka bareng anak-anak green map--yang kebetulan banget waktu itu cewek semua yang dateng, banyak hal yang kita obrolin. Ide-ide bermunculan, mengenai peta transportasi kota, sepeda hingga hal-hal remeh semacam kopyor dan kuliner-kuliner enak yang pernah dicicipi. Khas obrolan cewek yang bisa ngalor-ngidul kemana-mana.

Topik utama yang paling penting dibahas waktu itu adalah mengenai perekrutan orang-orang yang bersedia ikutan di Green Map. Soalnya memang krisis anggota. Bayangkan aja orang-orang datang dan pergi gitu aja. Namanya juga volunteer :p
Buka lowongan relawan selain juga butuh orang yang bisa disain, baca peta, survey, kerja lapangan. Kasarnya, butuh relawan yang serba bisa. Lalu tercetulah istilah balsem dari seorang kawan. Balsem ibaratnya obat yang digunakan diluar tubuh atau di kulit luar saja yang kadang digunakan untuk apa saja. Mau itu sakit gatal, masuk angin, dsb. Jadi, balsem bisa jadi orang-orang yang bisa apa saja namun hanya di kulit luar saja alias separo-paro bukannya pro.

Aku ini balsem. Yeah. Sayangnya iya, aku orang amatir yang bisanya cuma separo-paro. Nulis--bisa sedikit-sedikit, motret--bisa sedikit-sedikit, operasi komputer--tergantung program apa. Kalo dalam hidupku yang enggak mengenal balsem, maka aku menamakan diri dengan Minyak Tawon kalo begitu. Akulah minyak tawon yang cuma bisa hanya sekedar itu..

Sounds pathetic? Or I should proud to myself?

Tercetus begitu karena aku merasa sama sekali tidak puas dengan diriku sendiri. Aku tahu aku bisa namun aku memilih jalan yang jauh lebih mudah. Menuruti ego. Aku pengen lebih, lebih, dan lebih namun kenyataan yang ada selama ini bahwa aku bukan orang yang ambisius. Sial yang kedua.

Lantas gimana donk?

Monday, September 21, 2009

Lebaran Hari Kedua

Puasa telah lewat, dan suasana lebaran ada dimana-mana. Happy Ied! Rasanya menyenangkan berkumpul dengan keluarga--terutama ketika rumah yang sepi mendadak ramai kembali seperti beberapa tahun yang lalu. Lebaran memulangkan keluarga kembali ke rumah yang sebenarnya yang hangat.
Mencoba kembali mencari serpihan berkah yang dulu pernah didapat namun terlupakan. Aku malu padaMu tapi masih tetap meminta lagi dan lagi.twitter, 18 September 2009

Lagi-lagi banyak umbar janji dan omong kosong. Akan tetapi aku masih akan terus percaya aku bisa berubah menjadi lebih baik. Amien
:)

Saturday, August 15, 2009

I draw some rough future

Pernahkah meragukan masa depanmu sendiri? Well, aku mungkin sedang meragukan hidupku sendiri. Agak parah juga karena ini berarti tidak mempercayai kemampuan diri sendiri untuk hidup. My future path has just coming more rough day after day. Maybe it's just because myself who don't wanna to move out from comfort zone.

Beberapa tahun, sejak sepenggal konversasi dengan mbak indit--terlintas kata 'comfort zone'. Aku menyukainya, tidak ingin meninggalkannya. Namun, beberapa bulan belakangan lagi pikiran-pikiran baru yang menghinggapi kayak lalat--menganggu. Sungguh itu menganggu. Itu juga jadi semacam sinyal buat bahwa aku bergerak menuju tingkat kedewasaan dari sebelumnya. Kecerdasaan emosional yang tidak ku duga bakalan datang.

Apakah ini dilema 20 tahun? Bahkan sebelum aku menuliskan angka '20' aku baru mengingat bahwa umurku sudah mencapai sana. Seharusnya ini hanya awal dari hidupku yang bisa ku lukiskan jadi jauh lebih menarik lagi dari sebelumnya.

Aku hanya tidak bisa memutuskan untuk bergerak kemana. Ada yang memberatkan langkahku; semacam ego gila-gilaan. Tetapi ada pula rasio bahwa keadaan ini pasti akan berubah, siap atau tidak. Mendadak aku mengingat kata-kataku sendiri yang ku ucapkan ketika lulus SMA. Dunia berubah, siap atau tidak. Dulu ku bilang pada diriku sendiri, aku akan kuliah dan kehilangan waktu-waktu yang sangat kekanak-kanakan seperti ketika masih sekolah.

Dari kemaren otakku yang sangat jealousy ditambah keadaan comfort zone ku ini, lalu akan kemana?

Sunday, July 26, 2009

Oldman that never too old

2 minggu ini ku habiskan bersama banyak orang-orang tua. Baik tua umur hingga "tua" dalam pengalaman hidupnya. Bekerja hampir setiap hari di lingkungan Kraton Yogyakarta membuatku harus bertamu di rumah orang-orang itu. Mengobrol dengan para orang tua selalu penuh dengan nasehat--yang terkadang menyenangkan.

Romo Nur, seorang kakek berusia 85 tahun dengan keterbatasan penglihatan namun tak berhenti bicara selama 3 jam non-stop. Darah biru masih mengalir deras dalam tubuhnya namun tak sekalipun ia mau menyebutkan gelar ke-pangerannya itu. "Saya ini dari dulu bergaul dengan orang biasa--tak perlu sebutkan yang semacam itu."

Beliau adalah cucu laki-laki tertua dari Sultan Hamengku Buwono ke-8. Aku curiga, HB ke-8 sangat sayang pada beliau ini dari cerita-cerita kenakalan beliau yang luar biasa. Pergi bermain di luar kampung mana-mana, mencuri mangga hingga tebu, lalu melompat pagar rumah jam 2 pagi--pada masa itu. Cukup bisa menggambarkan bagaimana jaman mudanya dulu kan'?

Cerita-ceritanya tak berhenti sampai dengan mengenang masa lalunya saja. Cerita kehidupan dengan pemikirannya juga tak kalah banyak. Persoalan nasionalisme sebagai Indonesia yang tidak belagu dan tidak "bergaya" hanya karena sudah bisa pergi keluar negeri. Lalu melompat lagi tentang dirinya menyaru dengan penampilan gembel namun fasih berbahasa Belanda.

Kakek ini, hanya satu dari segelintir orang yang sudah hidup hingga mencapai usia 80-an. Para orang tua yang hidup melewati 2 jaman yang berbeda. Orang tua yang terkadang mengernyitkan dahinya ketika melihat modernitas disekeliling mereka. Kadang mereka tidak mengerti dengan tata krama yang diyakini oleh anak muda seperti saya. Dalam wilayah sakral--Jeron Benteng ini, para orang tua harus tinggal dan menikmati masa tuanya. Memperhatikan jaman yang kadang bebasnya keterlaluan.

Mereka tidak dimanjakan oleh internet, sms, handphone, hingga facebook. Jejaring sosial buat mereka tidak maya melainkan pergi keluar rumah dan bertemu sosoknya langsung.

Dan aku merasa sangat muda sekali didepan beliau. Bukan hanya dalam artian usia tetapi juga caraku menjalani hidup ini.