Showing posts with label i feel in. Show all posts
Showing posts with label i feel in. Show all posts

Friday, May 30, 2014

Sepucuk Surat Permintaan Maaf

Dear Kamu, 
Iya, kamu. Ku harapkan sampai juga surat ini untuk kamu baca. Kamu yang ku maksudkan sebetulnya jamak. Tapi aku ingin membuat ini kedengaran lebih personal.

It’s been rough months for me. Perjalanan kilat dari berbagai daerah, hutang yang menumpuk untuk dikerjakan dan waktu yang terus memburu. Rasanya seperti dihantui. Beberapa bulan ini sungguh terasa melelahkan buatku. Meskipun, memang rasanya aku kedengaran sangat manja dengan pekerjaan tak seberapa apabila dibandingkan dengan kamu. Tetapi, aku sesak nafas dengan semua yang menghampiriku beberapa bulan ini. Hingga puncaknya adalah malam ini. Aku tak tahu hantu mana yang menyambarku hingga membuatku kesetanan. Aku benar-benar bukan diriku sendiri. Aku tersesat dalam dimensi ruang kepalaku yang tidak menawarkan jalan apapun selain hanya tinggal dan menikmati begitu saja. Tanpa perlu repot-repot , tanpa tahu bahwa yang ku lakukan, keegoisan ini sungguh sangat melukaimu.

Aku tersesat dalam dunia kecil yang kubentuk sendiri. Aku tak punya keberanian untuk pergi dan memperbaiki segalanya. I messed things up. Dan sungguh, karena egoku pula aku menyakitimu.

Malam ini, satu pertanyaan besar menamparku dengan hebatnya. ‘Apakah aku punya hati?’. Dulu pertanyaan ini kedengaran sangat corny buatku. Namun, ketika kamu bertanya balik padaku, aku pun meraba-raba di dalam kedalaman diriku ini. Apa aku punya perasaan itu? Apa aku punya hati?

Maafkan aku yang telah berulang kali mengingkari janji hingga tak dapat dipercaya sedikitpun, maafkan aku telah mematahkan hatimu karena rasa takutku, maafkan aku atas semua keegoisanku, maafkan aku yang tak punya banyak waktu untuk memahami kamu barang sebentar saja, maaf karena aku membuatmu harus menangis dan marah sekaligus. Maaf karena aku tak mampu berbuat adil dan imbang dalam kehidupan kita.

Maaf saja tak cukup, pengandaian saja mungkin tak berarti. Tapi, aku ingin kamu tahu bahwa rasa penyesalanku begitu besar. Meskipun kini aku masih mencari hati dan perasaanku yang entah berceceran dimana, namun permintaan maafku ini hadir dari lubang yang berasal dari hatiku yang mungkin belum ketemu ini.

Aku harapkan masih belum terlambat untuk mengulang kembali dan memperbaiki segalanya.

30 Mei 2014

Dari aku untuk kamu

Sunday, April 27, 2014

Dear Sister

Pagi dini ini, ketika mendapat kabar darimu sungguh rasanya ikut berduka bersama dengan kamu. Satu hal yang paling kamu nantikan, satu hal yang paling sabar kamu tunggu, satu hal yang paling kamu jaga--kini telah pergi. Semestaku ikut terguncang karenanya. Tapi aku tahu bahwa kamulah yang paling sedih disini.

Aku membaca jejakmu dalam dunia maya. Melihat bagaimana dirimu menanti buah hati yang pada akhirnya tak mampu bertahan--mungkin untuk yang terbaik juga. Aku selalu berdoa dan mengharap bahwa engkau dapat menjadi seorang ibu dari anak-anak keren seperti halnya dua keponakan kita yang lain. 

Be strong sist, you know we love you so much :)

Thursday, February 13, 2014

Hello Again

Hidup dapat jungkir balik hanya dalam sekejap saja.
Suatu Senin, aku berdiri di peron stasiun--menangis sembari memeluknya.
Mengucapkan selamat tinggal dalam haru yang begitu mendalam. 
Seminggu kemudian, hari Senin juga, kami duduk berhadapan. Bicara mengenai kehidupan setelah ini semua. 
Kamu tidak jadi pergi itu kenyataan. 
Satu tahun hanya serasa lewat tujuh hari saja. 

Saturday, January 11, 2014

Hello and Goodbye

Menulis posting-an di sosial media manapun, hari-hari belakangan ini hanya akan membuat banyak orang berkomentar. Mungkin disini akan jauh lebih aman. Hal terakhir yang ku inginkan hanyalah orang lain yang berkomentar membuyarkan semua rasa yang sedang ku persiapkan. 

Dua hari sebelum aku mengucapkan sampai jumpa padanya. Another goodbye and i hope, it will lead to another hello one year later. Dia akan pergi merantau--pergi terbang ribuan kilometer jauhnya dari rumah dan tanah tempat kami berbagi cerita selama hampir 8 tahun ini. Selama ini, ku pikir, aku yang bakalan pergi duluan. Tak disangka justru malah dia yang akan pergi mengejar mimpi keluar dari zona nyaman yang selama ini melingkupi. Aku menyemangati dia untuk pergi. Aku ingin agar dia melihat dunia. Aku ingin dia pergi mengejar mimpinya. 

Mengucapkan selamat tinggal itu tidak mudah. Setelah waktu yang ku lalui dan selalu ada dia disitu. Bagaimana hidup tanpa dia? Aku membayangkan. 
Bagaimana rasanya nonton film di bioskop tidak bersama dia? Aku membayangkan.
Bagaimana rasanya dia tidak menghirup udara yang sama? Aku membayangkan. 

Dia pergi, tanpa janji apapun. Yah, aku tahu. Pada titik inipun aku dapat mengerti. Logis, bahwa rentang jarak dan waktu dapat mengubah apa yang kita miliki. 
I don't wanna over think about this anymore. Tidak ada titik balik atau perpisahan dramatis disini. Hidup terus berjalan. Dan kami akan mengejar mimpi masing-masing. 
Dan jika Tuhan masih menautkan hati kami, dan jika cinta--apabilan itu memang ada, pada pusaran waktu yang berjalan ini semua akan bermuara pada takdir. 

Dan tempatku berada akan terus disana--bersorak diujung jalan untuk mendukungnya mengejar kebahagiaan--seperti selama ini dan akan selalu begitu. 

Thursday, June 20, 2013

Titik

Ada orang yang telah berlayar hingga ketujuh samudera. Ada orang yang telah berkelana menapaki sesaknya jalanan kota dongeng. Ada pula orang yang telah mendaki hingga puncak dunia.

Namun ada pula orang yang hanya diam tinggal dalam rumah. Menunggu cerita perjalanan dari orang-orang hebat itu. Menanti dengan sabar. Tua dalam rutinitas.

Semua orang bebas memilih. Aku rasa.
Ingin menghabiskan waktu dalam perjalanan. Atau menjadi tua dalam ruitinitas.

Tetapi, pada satu waktu, terkadang kita tidak dihadapkan dengan pilihan tersebut.
Bukan karena kita mau, tetapi karena kita harus menjalani salah satu dari sekian banyak pilihan.

Dan ketika berada di titik itulah, kita harus berdamai dengan diri kita sendiri. Berdamai dengan keadaan.

Thursday, June 13, 2013

Perjalanan Sepi

Tidak ada yang luar biasa saat ini. Aku hanya duduk sendiri di balik jendela besar--tengah menatapi siraman derasnya hujan. Semuanya ada dalam kesendirian. Sudah semenjak lama, aku mungkin memilih untuk berkompromi dengan diriku sendiri. Ada kalanya kehidupan ini memang harus dijalani sendiri.

Hidupku tidak sebingar dahulu. Waktu yang membawaku ke perjalanan sepi ini. Berteman dengan mimpi untuk menciptakan dunia imajinasi. Aku tidak keberatan. Aku akan coba membiasakan diri.

Mungkin akulah yang memisahkan diri dalam perjalanan ini. Diam-diam menciptakan duniaku sendiri dalam keheningan.

Biar saja.

Biar saja waktu yang menentukan. Hidup seharusnya bingar atau sunyi.
Aku akan menikmati keduanya.

Wednesday, April 10, 2013

Menulis Ketakutan

Beberapa hari belakangan ini, memang ada belenggu yang saya rasakan. Mungkin benar, belenggu itu datang dari jiwa kita sendiri. Dengan kata lain, jiwa inilah yang tidak sehat. 
Aku takut menuliskan sesuatu. Mungkin karena ingat, kritikan tajam itu. Satu-satunya yang aku tahu, itu rupanya membuatku takut menulis. 

Hebat. Ternyata aku tak setegar yang bisa ditangkap oleh orang. 
Aku ingat hari-hari belakangan ini rasanya sulit untuk mendongengkan kisah yang seharusnya sudah kutuliskan. Gugup, gamang, takut, capek. Jiwa sakit ini mungkin yang menyebabkanku tidak bisa menuliskan apa-apa. 

Aku sudah tertinggal jauh. Yang lain sudah lari hampir separuh putaran. Masih juga aku berkutat di start.
Tapi hari, optimismeku melambung naik ke angkasa. 
Aku ingin memperbaiki jiwaku yang sedang tidak sehat. 
Setidaknya kembali pada diriku. 
Kembali pada keberanianku yang pernah menulis puluhan halaman, lalu dikirimkan pada sebuah acara penulisan, dan terpilih dari ratusan naskah(mungkin). Aku harus kembali percaya pada diriku sendiri, kesempatan seperti ini tidak akan datang untuk kedua kalinya. Sayang kalo dilewatkan.

Dan mungkin jalanku mencapai mimpi yang pernah kukubur dalam-dalam bisa terbentuk. Pelan. 
Yang perlu dipikirkan kini adalah bagaimana caraku mengatasi belenggu rasa takut. 

Sunday, January 6, 2013

Menyeret Tubuh

Fraktura Metatarsal V.
Atau nama keren untuk patah tulang telapak kaki kanan, tepat dibagian ruas kelingking. Akibatnya, kaki saya harus digips hingga betis. Kesulitan untuk berjalan dengan kaki normal yang membuat saya selama sebulan ke depan bergantung sekali dengan krek sebagai alat bantu jalan. Crutches dalam bahasa inggrisnya.

Ini adalah momen awal tahun yang tidak pernah saya harapkan terjadi. Setidaknya, tidak tepat waktu dengan keinginan saya berkejaran ingin segera menuntaskan studi. Saya jadi bergerak sangat lambat dan melelahkan. Pengalaman ini, bisa dipetik hikmahnya untuk jangan lupa memakai kacamata ketika berjalan dan selalu berhati-hati. Kata seorang teman, ini saatnya saya belajar lembut.

Minggu pertama dengan gips dan krek saya habiskan dengan beradaptasi. Mulai dengan badan yang pegal dan kerepotan lainnya: gips harus tetap kering, nggak boleh jalan menapak, dan otot yang makin kencang dan tegang. Ada satu hari yang saya lalui dengan kelelahan luar biasa akibat memaksakan diri untuk berjalan seperti kehidupan normal saya. Belum lagi rasa iri dan tidak enak hati terhadap orang yang dapat berjalan dengan normal namun harus ikut ribet dengan saya.

Saya turut bersimpati kepada kaum difabel yang bertahun-tahun menghabiskan waktunya dengan kekurangan. Mereka cacat permanen sementara saya hanya sebulan saja sudah mengeluh tiap menit. Ini cara Tuhan untuk mengingatkan betapa beruntung hidup yang saya jalani hingga saat ini. Jangan lupa untuk terus bersyukur, sembahyang, dan mengingat Tuhan pada tiap nafas yang dihembuskan. 

Bismillah

Saturday, January 5, 2013

Dream of not knowing

Kejadian ruwet kuarter pertama awal tahun 2012 yang lalu membuat ku jadi sedikit lebih berhati-hati. Dalam bersikap, bertindak, memutuskan sesuatu, dan menjadi seseorang tega. Sejujur akan selalu sulit bagi ku bila melakukan hal tersebut. Sebetulnya, aku sama terlukanya dengan mereka yang telah ku lukai, mungkin rasanya jadi berkali lipat karena perasaan itu tadi. Karena itu, mungkin kedengarannya aku bersikap seperti pengecut yang buru-buru kabur dan menutup pintu. I locked my heart. Cara yang paling mudah untuk tidak lagi menimbulkan kekacauan batin seperti yang terjadi tahun lalu. 

I better know nothing. Lebih baik, aku tidak tahu apa-apa dan biarkan aku terperangkap dalam ketidak tahuan ku yang justru akan lebih aman bagi mereka semua. Ya, memang terasa salah sistem kerja berpikir ku. Mungkin hati ku sudah terkunci untuk perasaan yang takut untuk aku sentuh kembali. Setelah tahun-tahun belakangan ini, keadaannya jadi jauh lebih baik--tapi tidak memungkiri rasanya aku masih berputar dengan hal yang sama. Yaitu berputar dengan diri ku sendiri dan ego ku sendiri. I choose to stay for unknown periods. 

Berhubungan ini awal tahun, mungkin rasanya tepat juga apabila memohon sebuah permintaan kepada Tuhan. Nggak muluk, mungkin hanya berdoa biar dikirimkan seseorang yang bisa membuka kunci yang udah terlanjut karatan di hati ini. In a cool way, of course. Not to let me wanna run, please..

Sunday, March 25, 2012

Cenayang

Masa depan itu selalu jadi misteri yang memikat. Pesona misterius itu yang menyebabkan banyak orang berlomba-lomba menyingkap tabir masa depan. Skip hari ini--hanya sekedar ingin tahu apa esok ekspektasi kita menjadi kenyataan.

Kadang kala, manusia membutuhkan pertanda untuk melangkah maju. Oleh sebab itulah, rubrik horoskop laku selalu dicari kala membaca majalah ataupun tabloid gosip. Manusia terkadang tidak sabaran untuk tahu kehidupannya mendatang. Tentu kita kepengen tahu, kayak apa sih jodoh kita, kerja apa besok itu, apa kita akan hidup sukses, dan pertanyaan lain. Makanya, usaha ramalan selalu laris manis. Terutama untuk orang yang punya "bakat".

Tapi gimana ada kalanya masa depan itu menakutkan sehingga membuat kita terkadang ragu untuk melangkah. Ada kala, kita tidak ingin tahu masa depan kita. Biarlah misteri tetap menjadi misteri.

Lalu, bagaimana seseorang mengatakan masa depanmu yang utuh bahkan tanpa kamu minta. Lebih-lebih lagi, sebetulnya kamu tidak berharap orang itu memberi tahu masa depan mu. Dan hidupmu mendadak tidak lagi seru. Hidup mu rasanya berputar ke arah yang membingungkan. Yang luar biasa adalah sahabat mu sendiri yang membacakan masa depan untukmu tanpa kamu minta. Serius, aku justru tersesat.

Oh kraby patty!

Thursday, March 8, 2012

Kontemplasi Sebelum Tidur

Sebetulnya saya sudah mau bablas tidur karena buru-buru ingin segera mengganti hari ini. Akan tetapi, kenangan datang tanpa permisi dalam satu kedipan mata ketika malam semakin merayap gelap. Selalu begitu. Saat sedang bengong dengan pikiran random saya--yang biasanya nggak terlalu penting seperti besok pengen pakai baju apa, tiba-tiba saja I'm having a moment. Saya teringat dengan sahabat baik saya yang sekarang sudah hijrah ke ibukota untuk bekerja, bersamaan dengan kenangan paling awal kami dapat berkawan sekental ini. Lalu, disitulah banjir kenangan saya tentang sahabat-sahabat. 

Di posting sebelum-sebelum ini saya pamer sedikit tentang persahabatan kami yang sudah sewindu itu. Nah, gara-gara kenangan nostalgia ini, saya jadi ingat memori lawas awal pertama kali kami mulai "bersahabat" yang dalam artiannya, dimana kami mulai sering main bareng, jalan-jalan, curhat, dll. 

Disitulah, malam ini saya teringat untuk pertama kalinya kami semua janjian untuk nonton film di bioskop lama (bukan jaringannya 21cineplex). Saya teringat, bagaimana perjalanan naik bis berdua dengan (calon) partner in crime saya waktu itu. 2 cewek tomboy, dengan gaya kayak mbah dukun (si sahabat pake kaos tanpa lengan kayak mbah dukun dan saya pake' jaket item seperti asisten mbah dukun), keduanya berambut sama-sama jabrik waktu itu, cuek dan nggak ada cakep-cakepnya sama sekali. Kilasan kenangan bergulir, ketika akhirnya kami batal nonton karena antrean panjang yang tidak memungkinkan untuk dapat tiket, lalu satu rombongan memutuskan untuk nongkrong saja di rumah salah satu kawan yang paling dekat dengan gedung bioskop. Seperti biasa ketika kami semua berkumpul yang ada hanya ketawa-ketiwi nggak karuan. Entah menertawakan hal apa. Yang bisa saya lihat hanya di dalam kenangan itu kami semua tertawa lebar tanpa beban, galau paling mentok kami hanyalah seputaran PR Kimia yang nggak bisa dikerjain dan cowok cakep dari kelas sebelah. 

Saya menertawakan kenangan tentang persahabatan kami selama SMA. Perjalanan yang lagi-lagi terasa seperti mimpi. Menengok kami semua yang masih bersekolah dulu rasanya tiada duanya, sekarang ini aku melihat kami semua sudah menapaki jalan masing-masing. Semua telah berpindah menuju jalan masa depan masing-masing. Kami yang polos dan naif dulu itu kini berganti menjadi orang yang lebih dewasa. Dulu kami sekedar anak-anak ingusan yang sering bikin jengkel guru, namun sekarang seorang teman bahkan mulai melangkah maju membangun rumah tangganya sendiri. 

Rasa takut menjadi dewasa kadang masih saja membayangi. Jelaslah, saya sendiri tidak yakin dengan masa depan yang agak absurd. Terbiasa dipilihkan jalan, sekarang kadang rasa takut menggerogoti tatkala harus memilih masa depan saya sendiri. 

Pada titik ini, saya cuman bisa ketawa. Andai hidup hanya sekedar mengkhawatirkan gimana caranya bikin contekan untuk ulangan kimia saja :p

Friday, March 2, 2012

Rindu

Rindu bukanlah kata yang mudah terucap dari bibirku. Untukku yang jauh dari kebiasaan untuk berkata dengan penuh rasa sayang atau semacamnya. Kata rindu yang paling mudah ku ucapkan hanya untuk bapak saja. Mungkin karena memang kami sudah lama sekali tidak bertemu. Kebiasaan jelek sih, bicara rindu hanya ketika tidak dapat bertemu. Hanya ketika raga sudah tak dapat berjumpa di dimensi dunia ini. Padahal, kenapa tidak bicara rindu ketika masih dapat bertegur sapa dan melempar senyum.

Seperti ini: "Aku merindukan mu. Bahkan ketika sudah bertemu pun aku masih tetap saja merindukanmu."

Gombal?
Aku bertaruh orang yang bicara begitu pada ku hanya akan mendapatkan tawa berderai-derai yang tak kunjung berhenti. Sayang sekali, aku terlalu kaku, dingin dan menyebalkan untuk dapat menerima hal-hal manis seperti itu. Sungguh tidak sopan.

Rindu bukanlah kata yang mudah terlontar dari ku. Bahkan pula, mungkin sulit untuk mengakui bahwa aku merindukan seseorang dengan segenap perasaan ku. Kenapa rindu harus muncul ketika tidak bertemu?

Monday, January 23, 2012

Rasa Yang Berpilin

Aku belajar mereka rasa,
Yang terkadang begitu tak terkatakan
Rasa yang silih berganti
Menjadi jalinan emosional diantara aku dan otakku yang bertaruh
Mana yang benar?
Mana yang keliru?

Rasa itu datang dengan kebimbangan
Pula dengan rasa pilu
Mendaras pada hati ku bertubi-tubi bagai sembilu
Seperti untaian doa yang terus menerus ku ucapkan lirih
Pada jiwa untuk dapat kembali pulih
Bahkan esok matahari kan terbit seperti layaknya

Rest In Peace for Steve

'You've got to find what you love,' Jobs says

This is a prepared text of the Commencement address delivered by Steve Jobs, CEO of Apple Computer and of Pixar Animation Studios, on June 12, 2005.
I am honored to be with you today at your commencement from one of the finest universities in the world. I never graduated from college. Truth be told, this is the closest I've ever gotten to a college graduation. Today I want to tell you three stories from my life. That's it. No big deal. Just three stories.
The first story is about connecting the dots.
I dropped out of Reed College after the first 6 months, but then stayed around as a drop-in for another 18 months or so before I really quit. So why did I drop out?
It started before I was born. My biological mother was a young, unwed college graduate student, and she decided to put me up for adoption. She felt very strongly that I should be adopted by college graduates, so everything was all set for me to be adopted at birth by a lawyer and his wife. Except that when I popped out they decided at the last minute that they really wanted a girl. So my parents, who were on a waiting list, got a call in the middle of the night asking: "We have an unexpected baby boy; do you want him?" They said: "Of course." My biological mother later found out that my mother had never graduated from college and that my father had never graduated from high school. She refused to sign the final adoption papers. She only relented a few months later when my parents promised that I would someday go to college.
And 17 years later I did go to college. But I naively chose a college that was almost as expensive as Stanford, and all of my working-class parents' savings were being spent on my college tuition. After six months, I couldn't see the value in it. I had no idea what I wanted to do with my life and no idea how college was going to help me figure it out. And here I was spending all of the money my parents had saved their entire life. So I decided to drop out and trust that it would all work out OK. It was pretty scary at the time, but looking back it was one of the best decisions I ever made. The minute I dropped out I could stop taking the required classes that didn't interest me, and begin dropping in on the ones that looked interesting.
It wasn't all romantic. I didn't have a dorm room, so I slept on the floor in friends' rooms, I returned coke bottles for the 5¢ deposits to buy food with, and I would walk the 7 miles across town every Sunday night to get one good meal a week at the Hare Krishna temple. I loved it. And much of what I stumbled into by following my curiosity and intuition turned out to be priceless later on. Let me give you one example:
Reed College at that time offered perhaps the best calligraphy instruction in the country. Throughout the campus every poster, every label on every drawer, was beautifully hand calligraphed. Because I had dropped out and didn't have to take the normal classes, I decided to take a calligraphy class to learn how to do this. I learned about serif and san serif typefaces, about varying the amount of space between different letter combinations, about what makes great typography great. It was beautiful, historical, artistically subtle in a way that science can't capture, and I found it fascinating.
None of this had even a hope of any practical application in my life. But ten years later, when we were designing the first Macintosh computer, it all came back to me. And we designed it all into the Mac. It was the first computer with beautiful typography. If I had never dropped in on that single course in college, the Mac would have never had multiple typefaces or proportionally spaced fonts. And since Windows just copied the Mac, it's likely that no personal computer would have them. If I had never dropped out, I would have never dropped in on this calligraphy class, and personal computers might not have the wonderful typography that they do. Of course it was impossible to connect the dots looking forward when I was in college. But it was very, very clear looking backwards ten years later.
Again, you can't connect the dots looking forward; you can only connect them looking backwards. So you have to trust that the dots will somehow connect in your future. You have to trust in something — your gut, destiny, life, karma, whatever. This approach has never let me down, and it has made all the difference in my life.
My second story is about love and loss.
I was lucky — I found what I loved to do early in life. Woz and I started Apple in my parents garage when I was 20. We worked hard, and in 10 years Apple had grown from just the two of us in a garage into a $2 billion company with over 4000 employees. We had just released our finest creation — the Macintosh — a year earlier, and I had just turned 30. And then I got fired. How can you get fired from a company you started? Well, as Apple grew we hired someone who I thought was very talented to run the company with me, and for the first year or so things went well. But then our visions of the future began to diverge and eventually we had a falling out. When we did, our Board of Directors sided with him. So at 30 I was out. And very publicly out. What had been the focus of my entire adult life was gone, and it was devastating.
I really didn't know what to do for a few months. I felt that I had let the previous generation of entrepreneurs down - that I had dropped the baton as it was being passed to me. I met with David Packard and Bob Noyce and tried to apologize for screwing up so badly. I was a very public failure, and I even thought about running away from the valley. But something slowly began to dawn on me — I still loved what I did. The turn of events at Apple had not changed that one bit. I had been rejected, but I was still in love. And so I decided to start over.
I didn't see it then, but it turned out that getting fired from Apple was the best thing that could have ever happened to me. The heaviness of being successful was replaced by the lightness of being a beginner again, less sure about everything. It freed me to enter one of the most creative periods of my life.
During the next five years, I started a company named NeXT, another company named Pixar, and fell in love with an amazing woman who would become my wife. Pixar went on to create the worlds first computer animated feature film, Toy Story, and is now the most successful animation studio in the world. In a remarkable turn of events, Apple bought NeXT, I returned to Apple, and the technology we developed at NeXT is at the heart of Apple's current renaissance. And Laurene and I have a wonderful family together.
I'm pretty sure none of this would have happened if I hadn't been fired from Apple. It was awful tasting medicine, but I guess the patient needed it. Sometimes life hits you in the head with a brick. Don't lose faith. I'm convinced that the only thing that kept me going was that I loved what I did. You've got to find what you love. And that is as true for your work as it is for your lovers. Your work is going to fill a large part of your life, and the only way to be truly satisfied is to do what you believe is great work. And the only way to do great work is to love what you do. If you haven't found it yet, keep looking. Don't settle. As with all matters of the heart, you'll know when you find it. And, like any great relationship, it just gets better and better as the years roll on. So keep looking until you find it. Don't settle.
My third story is about death.
When I was 17, I read a quote that went something like: "If you live each day as if it was your last, someday you'll most certainly be right." It made an impression on me, and since then, for the past 33 years, I have looked in the mirror every morning and asked myself: "If today were the last day of my life, would I want to do what I am about to do today?" And whenever the answer has been "No" for too many days in a row, I know I need to change something.
Remembering that I'll be dead soon is the most important tool I've ever encountered to help me make the big choices in life. Because almost everything — all external expectations, all pride, all fear of embarrassment or failure - these things just fall away in the face of death, leaving only what is truly important. Remembering that you are going to die is the best way I know to avoid the trap of thinking you have something to lose. You are already naked. There is no reason not to follow your heart.
About a year ago I was diagnosed with cancer. I had a scan at 7:30 in the morning, and it clearly showed a tumor on my pancreas. I didn't even know what a pancreas was. The doctors told me this was almost certainly a type of cancer that is incurable, and that I should expect to live no longer than three to six months. My doctor advised me to go home and get my affairs in order, which is doctor's code for prepare to die. It means to try to tell your kids everything you thought you'd have the next 10 years to tell them in just a few months. It means to make sure everything is buttoned up so that it will be as easy as possible for your family. It means to say your goodbyes.
I lived with that diagnosis all day. Later that evening I had a biopsy, where they stuck an endoscope down my throat, through my stomach and into my intestines, put a needle into my pancreas and got a few cells from the tumor. I was sedated, but my wife, who was there, told me that when they viewed the cells under a microscope the doctors started crying because it turned out to be a very rare form of pancreatic cancer that is curable with surgery. I had the surgery and I'm fine now.
This was the closest I've been to facing death, and I hope it's the closest I get for a few more decades. Having lived through it, I can now say this to you with a bit more certainty than when death was a useful but purely intellectual concept:
No one wants to die. Even people who want to go to heaven don't want to die to get there. And yet death is the destination we all share. No one has ever escaped it. And that is as it should be, because Death is very likely the single best invention of Life. It is Life's change agent. It clears out the old to make way for the new. Right now the new is you, but someday not too long from now, you will gradually become the old and be cleared away. Sorry to be so dramatic, but it is quite true.
Your time is limited, so don't waste it living someone else's life. Don't be trapped by dogma — which is living with the results of other people's thinking. Don't let the noise of others' opinions drown out your own inner voice. And most important, have the courage to follow your heart and intuition. They somehow already know what you truly want to become. Everything else is secondary.
When I was young, there was an amazing publication called The Whole Earth Catalog, which was one of the bibles of my generation. It was created by a fellow named Stewart Brand not far from here in Menlo Park, and he brought it to life with his poetic touch. This was in the late 1960's, before personal computers and desktop publishing, so it was all made with typewriters, scissors, and polaroid cameras. It was sort of like Google in paperback form, 35 years before Google came along: it was idealistic, and overflowing with neat tools and great notions.
Stewart and his team put out several issues of The Whole Earth Catalog, and then when it had run its course, they put out a final issue. It was the mid-1970s, and I was your age. On the back cover of their final issue was a photograph of an early morning country road, the kind you might find yourself hitchhiking on if you were so adventurous. Beneath it were the words: "Stay Hungry. Stay Foolish." It was their farewell message as they signed off. Stay Hungry. Stay Foolish. And I have always wished that for myself. And now, as you graduate to begin anew, I wish that for you.
Stay Hungry. Stay Foolish.
Thank you all very much.

I miss my Dad when..

Pagi belum sampai pukul 9 pagi tetapi aku sudah kangen dengan Bapak gara-gara pipa kamar mandi bocor dan air nyembur kemana-mana.
Ketika listrik rumah sering korsleting, aku juga rindu Bapak.
Ketika air rumah nggak bisa mengalir, sungguh setengah mati rinduku padanya..
Ketika langit-langit kamar mandi rubuh, aku kangen sekali sama Bapak..
Ketika aku menghitung jumlah ulang tahun ku, aku jadi kangen sama Bapak..
Ketika sudah 13 tahun tidak ketemu, rindu ku makin menjadi-jadi..

Menunggu Hujan

Musim penghujan seharusnya sudah hadir di depan pintu. Namun, sepertinya ia malu-malu untuk mengetuk. Baru mendungnya yang mengumpul di atas atap rumah ku. Maka, biarkan aku berdiri di tepi jendela, mendongakkan kepala lalu menatap langit sambil berharap hujan akan turun hari ini.

Wednesday, August 17, 2011

Seperti biasanya

Hampir sekarat
Nafas tercekat
Udara ku hilang
Bersama dengan pergi dirimu

Kau memukau
Seperti biasanya
Menggelegar bagai petir
Berkawan dengan hujan
Angkuh menerjang badai
Tanpa takut
Seperti dirimu yang biasanya

Hampir sekarat
Ku ikuti langkah mu
Namun jejakmu tak ku temukan
Kau hilang dalam semesta tak berujung ini
Tak ingin ku temukan
Seperti biasanya

Monday, April 25, 2011

:)

when the life rolling into today
after the heavy storm
after the hard rain
after the darkness life

after my life seems so dark, like someone turn off the lamp
but only when everything is black out
there is a light
small, warm, bright
the light that never goes out

thank you

Tuesday, March 15, 2011

if time is all i have - James Blunt

"If Time Is All I Have"

When you wake up
Turn the radio on
And you'll hear this simple song

That I made up
That I made up for you

When you're driving
Turn the radio up
Cause I can't sing loud enough
Hard these days
To get my message through

If time is all I have
I'll waste it all on you

Each day I'll turn it back
It's what the broken-hearted do
I'm tired of talking to an empty space
Of silences keeping me awake

When you marry
And you look around
I'll be somewhere in that crowd
Torn up, that it isn't me

When you're older
The memories fade
But I know I'll still feel the same
For as long as I live

But if time is all I have
I'll waste it all on you

Each day I'll turn it back
It's what the broken-hearted do
I'm tired of talking to an empty space
Of silences keeping me awake

Won't you say my name, one time
Please just say my name

But if time is all I have
I'll waste it all on you
Each day I'll turn it back
It's what the broken-hearted do
I'm tired of talking to an empty space
Of silences keeping me awake

If time is all I have
I'll waste it all on you

Each day I'll turn it back
It's what the broken-hearted do
I'm tired of talking to an empty space
Of silences keeping me awake

Won't you say my name
When the song is over


Thursday, March 10, 2011

move along with mine

Kamu akan menemukan seseorang yang tidak akan pernah pergi ketika perayaan pesta berakhir hanya untuk sekedar membantu beres-beres piring, atau seseorang yang akan mengajakmu berbincang hal-hal remeh, dan mereka yang akan tinggal lebih lama dalam hidupmu untuk sekedar berbagi cerita.

Para sahabat yang telah lama tinggal dalam kehidupanku. Menemukan mereka yang setiap harinya berubah namun tetap sama. Menerima mereka dalam perjalanan kehidupan ini dalam ruang yang jauh lebih lebar dari siapapun.

8 tahun. Hanya sekedar angka. Sebagai penanda saja bahwa kami memang telah lama bertemu dan berteman. Kemarin kami hanyalah anak SMA nyebelin, hari ini kami adalah orang dewasa tanggung--ada yang udah mau nikah, ada yang anti-nikah, ada yang mau kerja, ada yang belum lulus kuliah, lalu esok hari kami adalah...? Siapa yang tahu masa depan. Seperti kami yang tidak pernah membayangkan 8 tahun akan bersahabat--mengarungi waktu bersama. Mungkin akan ku jawab, esok kami adalah individu yang berbeda dari hari ini namun kami terbentuk dari hari ini. Dan persahabatan kami akan terus berlanjut. Hingga nanti..