Lucu, karena baru kali ini aku merasakan perasaan mengesalkan seperti ini. Kadang ku pikir diriku nggak bakalan kepikiran untuk merasa seperti ini. Tapi, thanks God, I'm a normal human. Sangatlah manusiawi merasakan perasaan semacam ini hinggap di kepala kita.
Beberapa hari belakangan ini, pikiran ini terus saja mengusik. Pengen cuci otak dengan demikian "kotora-kotoran" yang bikin penuh bisa dibuang ke tong sampah. Aku nggak tau gimana caranya untuk mengatur. Manajemen otak. Inikah yang harus ku lakuin selanjutnya.
Perasaan ini jadi sangat mengganggu karena di satu sisi aku tahu ini tidak tepat. Ibaratnya sekarang sedang menari-nari 'negative-side' lebih banyak daripada keikhlasan yang biasanya ku punya. Aku tahu, pikiran ini sangat sederhana--bahwa kesempatan itu belum ada untukku. Tapi kok...?
Sialan kan' kepikiran lagi. hahahaha
Sudahlah, banyak kesempatan mungkin memang tidak untuk kita dapatkan. Mencoba untuk tetap positif. Mungkin dengan cara seperti inilah yang bisa melecutku untuk bergerak dari comfott zone ini.
Friday, August 14, 2009
Sunday, July 26, 2009
Oldman that never too old
2 minggu ini ku habiskan bersama banyak orang-orang tua. Baik tua umur hingga "tua" dalam pengalaman hidupnya. Bekerja hampir setiap hari di lingkungan Kraton Yogyakarta membuatku harus bertamu di rumah orang-orang itu. Mengobrol dengan para orang tua selalu penuh dengan nasehat--yang terkadang menyenangkan.
Romo Nur, seorang kakek berusia 85 tahun dengan keterbatasan penglihatan namun tak berhenti bicara selama 3 jam non-stop. Darah biru masih mengalir deras dalam tubuhnya namun tak sekalipun ia mau menyebutkan gelar ke-pangerannya itu. "Saya ini dari dulu bergaul dengan orang biasa--tak perlu sebutkan yang semacam itu."
Beliau adalah cucu laki-laki tertua dari Sultan Hamengku Buwono ke-8. Aku curiga, HB ke-8 sangat sayang pada beliau ini dari cerita-cerita kenakalan beliau yang luar biasa. Pergi bermain di luar kampung mana-mana, mencuri mangga hingga tebu, lalu melompat pagar rumah jam 2 pagi--pada masa itu. Cukup bisa menggambarkan bagaimana jaman mudanya dulu kan'?
Cerita-ceritanya tak berhenti sampai dengan mengenang masa lalunya saja. Cerita kehidupan dengan pemikirannya juga tak kalah banyak. Persoalan nasionalisme sebagai Indonesia yang tidak belagu dan tidak "bergaya" hanya karena sudah bisa pergi keluar negeri. Lalu melompat lagi tentang dirinya menyaru dengan penampilan gembel namun fasih berbahasa Belanda.
Kakek ini, hanya satu dari segelintir orang yang sudah hidup hingga mencapai usia 80-an. Para orang tua yang hidup melewati 2 jaman yang berbeda. Orang tua yang terkadang mengernyitkan dahinya ketika melihat modernitas disekeliling mereka. Kadang mereka tidak mengerti dengan tata krama yang diyakini oleh anak muda seperti saya. Dalam wilayah sakral--Jeron Benteng ini, para orang tua harus tinggal dan menikmati masa tuanya. Memperhatikan jaman yang kadang bebasnya keterlaluan.
Mereka tidak dimanjakan oleh internet, sms, handphone, hingga facebook. Jejaring sosial buat mereka tidak maya melainkan pergi keluar rumah dan bertemu sosoknya langsung.
Dan aku merasa sangat muda sekali didepan beliau. Bukan hanya dalam artian usia tetapi juga caraku menjalani hidup ini.
Romo Nur, seorang kakek berusia 85 tahun dengan keterbatasan penglihatan namun tak berhenti bicara selama 3 jam non-stop. Darah biru masih mengalir deras dalam tubuhnya namun tak sekalipun ia mau menyebutkan gelar ke-pangerannya itu. "Saya ini dari dulu bergaul dengan orang biasa--tak perlu sebutkan yang semacam itu."
Beliau adalah cucu laki-laki tertua dari Sultan Hamengku Buwono ke-8. Aku curiga, HB ke-8 sangat sayang pada beliau ini dari cerita-cerita kenakalan beliau yang luar biasa. Pergi bermain di luar kampung mana-mana, mencuri mangga hingga tebu, lalu melompat pagar rumah jam 2 pagi--pada masa itu. Cukup bisa menggambarkan bagaimana jaman mudanya dulu kan'?
Cerita-ceritanya tak berhenti sampai dengan mengenang masa lalunya saja. Cerita kehidupan dengan pemikirannya juga tak kalah banyak. Persoalan nasionalisme sebagai Indonesia yang tidak belagu dan tidak "bergaya" hanya karena sudah bisa pergi keluar negeri. Lalu melompat lagi tentang dirinya menyaru dengan penampilan gembel namun fasih berbahasa Belanda.
Kakek ini, hanya satu dari segelintir orang yang sudah hidup hingga mencapai usia 80-an. Para orang tua yang hidup melewati 2 jaman yang berbeda. Orang tua yang terkadang mengernyitkan dahinya ketika melihat modernitas disekeliling mereka. Kadang mereka tidak mengerti dengan tata krama yang diyakini oleh anak muda seperti saya. Dalam wilayah sakral--Jeron Benteng ini, para orang tua harus tinggal dan menikmati masa tuanya. Memperhatikan jaman yang kadang bebasnya keterlaluan.
Mereka tidak dimanjakan oleh internet, sms, handphone, hingga facebook. Jejaring sosial buat mereka tidak maya melainkan pergi keluar rumah dan bertemu sosoknya langsung.
Dan aku merasa sangat muda sekali didepan beliau. Bukan hanya dalam artian usia tetapi juga caraku menjalani hidup ini.
Thursday, July 2, 2009
Bersikap apatis begitu saja
Sudah hampir sebulan lebih semenjak kampanye pemilu presiden dimulai. Rasanya bener-bener muak karena dijejali bermacam rupa iklan sang calon masa depan. Hampir setiap hari, ketika menonton acara teve disaat prime time--iklan-iklan itu dijejalkan. Iklan durasi 30 detik yang isinya janji-janji politik, si ini lebih cepat daripada si itu, yang mana yang pro rakyat. Belum lagi di ruang publik--jalanan yang penuh spanduk dan atribut wajah mereka.
Mungkin sikap ini bisa dibilang sangat apatis terhadap dunia politik negara. Satu contoh konkret generasi muda yang nggak peduli dengan kondisi negaranya sendiri. Cuek dengan permasalahan politik. Cuek dengan masa depan. Sarkastik sekali terhadap para elit yang (ngakunya) berjuang untuk rakyat.
Anak muda? Generasi muda?
Yang macam apakah saya ini?
Yang tentu saja diharapkan tidak hanya sekedar cuek dengan negara yang semakin lama sudah semakin sakit ini. Saya ingin memperbaikinya, turut serta jadi perawat agar negara ini bisa lekas sembuh. Apakah negara ini bisa selamat jika terus digerogoti oleh-oleh politikus sialan itu?
Entah..
Mungkin sikap ini bisa dibilang sangat apatis terhadap dunia politik negara. Satu contoh konkret generasi muda yang nggak peduli dengan kondisi negaranya sendiri. Cuek dengan permasalahan politik. Cuek dengan masa depan. Sarkastik sekali terhadap para elit yang (ngakunya) berjuang untuk rakyat.
Anak muda? Generasi muda?
Yang macam apakah saya ini?
Yang tentu saja diharapkan tidak hanya sekedar cuek dengan negara yang semakin lama sudah semakin sakit ini. Saya ingin memperbaikinya, turut serta jadi perawat agar negara ini bisa lekas sembuh. Apakah negara ini bisa selamat jika terus digerogoti oleh-oleh politikus sialan itu?
Entah..
Saturday, April 25, 2009
Ekspektasi kenangan hari ini
Kita terbiasa mengingat satu momen istimewa. Saat itu biasanya akan terasa sangat istimewa--bahkan saat mengingat-ingatnya momen itu terasa baru terjadi kemaren atau 30 detik yang lalu. Istimewa itu bisa dikonotasi baik hingga buruk. Momen indah akan kita ingat sama baiknya dengan momen terburuk. Keduanya akan terpatri sama dalamnya. Dan, selalu ku katakan pada diri ku sendiri--jika kamu nggak mengalami amnesia maka kenangan itu pasti akan menempel selamanya.
Aku tidak berharap kepalaku bakalan kejedug dan bikin aku kehilangan semua ingatanku. Baik maupun buruknya momen yang pernah ku alami. Aku juga tidak merencanakannya dalam waktu dekat ini (ku harap juga selamanya). Bagikubaik dan buruknya kenangan hal akan berakhir sama sebagai dua hal yang akan terus terjadi dalam rangkaian kejadian yang berikutnya.
Selalu ada saat indah, meski buruk. Semuanya abu-abu, sama seperti zona aman. Karena keduanya bercampur jadi satu. Momenlah yang menciptakan cerita kehidupan ini.
Terima kasih untuk segalanya. Bahwa pencapaian itu telah melampaui ekspektasi ku selama ini. Momen yang membawa ku dan menjagaku dalam satu kewarasan--satu keyakinan gila!
Mungkin, jika bukan karena aku diberi sedikit luas hati beberapa jengkal--yang tidak biasa ada di tempat lain, maka mencapai keyakinan gila ini sungguh sangat mustahil.
Aku punya keyakinan gila. Hal indah pasti akan sama jelasnya dengan hal buruk. Aku terlalu enteng berpikir. Dan kegilaan itulah yang membuatku menyalurkan energi ketika hal buruk terjadi. Semua akan berada dalam jalur yang tepat.
Satu momen pada hari ini yang pernah terjadi 2 tahun yang lalu adalah satu kenangan terhebat yang pernah terjadi dalam hidupku. Aku masih bisa mengingatnya--senyata mengingat pagi ini aku tanding badminton di kampus. Toh, kenangan bukanlah masa kini. Semuanya harus berjalan meski tidak sesuai dengan yang kita harapkan. I dare to myself to move. Bahwa banyak hal yang tidak akan berjalan sesuai dengan ekspektasiku. Namun, sekali lagi, million thanks to him for all the day i've spent after that, with laugh and glory pain. Hanya ada satu keyakinan dalam hati ini. Aku bisa dan pasti akan bisa. Bahwa Tuhan akan kasih peta untuk menemukanmu, dengan cara apapun suatu saat nanti. Aku belum menyerah dan bendera putih belum akan ku kibarkan.
Semua itu pernah menjadi yang terburuk tapi juga yang terindah. Paling indah dalam hidupku.
Makasih yah :)
Aku tidak berharap kepalaku bakalan kejedug dan bikin aku kehilangan semua ingatanku. Baik maupun buruknya momen yang pernah ku alami. Aku juga tidak merencanakannya dalam waktu dekat ini (ku harap juga selamanya). Bagikubaik dan buruknya kenangan hal akan berakhir sama sebagai dua hal yang akan terus terjadi dalam rangkaian kejadian yang berikutnya.
Selalu ada saat indah, meski buruk. Semuanya abu-abu, sama seperti zona aman. Karena keduanya bercampur jadi satu. Momenlah yang menciptakan cerita kehidupan ini.
Terima kasih untuk segalanya. Bahwa pencapaian itu telah melampaui ekspektasi ku selama ini. Momen yang membawa ku dan menjagaku dalam satu kewarasan--satu keyakinan gila!
Mungkin, jika bukan karena aku diberi sedikit luas hati beberapa jengkal--yang tidak biasa ada di tempat lain, maka mencapai keyakinan gila ini sungguh sangat mustahil.
Aku punya keyakinan gila. Hal indah pasti akan sama jelasnya dengan hal buruk. Aku terlalu enteng berpikir. Dan kegilaan itulah yang membuatku menyalurkan energi ketika hal buruk terjadi. Semua akan berada dalam jalur yang tepat.
Satu momen pada hari ini yang pernah terjadi 2 tahun yang lalu adalah satu kenangan terhebat yang pernah terjadi dalam hidupku. Aku masih bisa mengingatnya--senyata mengingat pagi ini aku tanding badminton di kampus. Toh, kenangan bukanlah masa kini. Semuanya harus berjalan meski tidak sesuai dengan yang kita harapkan. I dare to myself to move. Bahwa banyak hal yang tidak akan berjalan sesuai dengan ekspektasiku. Namun, sekali lagi, million thanks to him for all the day i've spent after that, with laugh and glory pain. Hanya ada satu keyakinan dalam hati ini. Aku bisa dan pasti akan bisa. Bahwa Tuhan akan kasih peta untuk menemukanmu, dengan cara apapun suatu saat nanti. Aku belum menyerah dan bendera putih belum akan ku kibarkan.
Semua itu pernah menjadi yang terburuk tapi juga yang terindah. Paling indah dalam hidupku.
Makasih yah :)
Tuesday, March 17, 2009
BEHAVE!
Sebetulnya aku tidak terlalu benci rokok. Koreksi. Asap yang dihembuskan dari mulut seseorang setelah menghisap dalam-dalam sepuntung rokok. Kebetulan, aku orang yang cukup tahan dengan asap rokok karena orang-orang di lingkunganku banyak juga yang merokok. Antara lain, kakak laki-laki ku yang paling tua--walaupun sekarang sepertinya sudah berhenti sama sekali, dan tentu saja kebanyakan dari teman-teman cowokku memang banyak yang merokok. Dari kecil aku cukup tahan berdekatan dengan orang yang merokok karena dulu sekali, waktu aku masih rajin dengan kegiatan remaja masjid, sudah banyak teman-teman cowokku--yang meski masih SMA, sudah mulai merokok. Dan mengenal dekat salah satu dari mereka berarti secara otomatis aku juga dekat dengan rokok.
Aku bukan perokok. Sama sekali belum pernah menghisapnya dan hal itu nggak perlu repot ku jelaskan dengan memperlihat hasil x-ray paru-paru untuk membuktikannya. Setidaknya aku merasa cukup sehat. Sepanjang 20 tahun hidupku, aku adalah karin si perokok pasif.
Sebetulnya, aku tidak terlalu keberatan dengan para perokok aktif yang selalu ngebul dimana-mana itu. Yah, mengingat, hukum di Indonesia yang terlalu lemah untuk dipatuhi. Merokok buat ku juga bukan dosa moral yang besar. Hanya saja, aku membenci setengah mati perokok bego yang sembarang mengeluarkan polusi udara itu tidak lihat tempat.
Dan aku punya pengalaman paling buruk dalam hal itu. Suatu hari, seperti biasanya aku melompat ke dalam bis kota untuk pergi kuliah. Bis kota yang ku naiki merupakan semacam mini bus dengan satu pintu yang memuat hanya separuh orang dari bis kota besar biasanya. Bis kota yang ku naiki kali ini merupakan mini bus dengan tipe jendela kecil yang berada di bagian atas dekat dengan langit-langit. Tidak seperti jendela bis yang biasanya lebar dan berada sejajar dengan kursi penumpang. Bis ini sungguh biadab. Sirkulasi udaranya benar-benar buruk oleh karena kecilnya ukuran jendela. Ergh, untung aku naik di pagi hari ketika suhu udara masih cukup sejuk. Jangan coba-coba naik bis macam itu tengah siang di hari-hari musim kering. Rasanya seperti di sauna.
Lalu, si supir menghentikan bis untuk menaikkan penumpang biadab ini. Seorang bapak, masih berusia sekitar akhir 30-an, menggenggam sekotak djarum super. Aku hanya melirik ngeri. Berdoa dan berharap kemungkinan terburuk dalam otak tidak terjadi. Sial! Bapak itu menyulutkan api dan membakar rokoknya. Argh! Asap berputar dalam ruang bis yang sempit. Bis itu seperti di ruang pengasapan. Tak lama, seorang pemuda naik lagi, lebih parah dengan rokok yang menyala-nyala di tangannya. Sial! Sumpah rasanya bis itu udah kayak ruang pengasapannya Hittler.
Aku benar-benar tidak terlalu mempermasalahkan orang-orang yang merokok seandainya mereka mengerti bagaimana harus bersikap. Merokok di tempat sempit sekian meter itu. Merokok harus diakui sebagai hak hidup orang. Kemerdekaan manusia manapun yang mencari nikotin demi paru-paru mereka. Benda yang tidak perlu digubris kehalalan atau keharaman karena semua itu sudah diurus di kantor ke-malaikatan sana. Tapi, kalo orang lain hampir mati karena dicekoki oleh asap seperti yang ku alami?
Aku tidak sedang menyalahkan siapa-siapa, hanya mengajak untuk bersikap lebih logis dan sedikit berbaik hati dengan orang lain. Sedikit kebaikan hati untuk tidak sembarangan merokok.
Aku bukan perokok. Sama sekali belum pernah menghisapnya dan hal itu nggak perlu repot ku jelaskan dengan memperlihat hasil x-ray paru-paru untuk membuktikannya. Setidaknya aku merasa cukup sehat. Sepanjang 20 tahun hidupku, aku adalah karin si perokok pasif.
Sebetulnya, aku tidak terlalu keberatan dengan para perokok aktif yang selalu ngebul dimana-mana itu. Yah, mengingat, hukum di Indonesia yang terlalu lemah untuk dipatuhi. Merokok buat ku juga bukan dosa moral yang besar. Hanya saja, aku membenci setengah mati perokok bego yang sembarang mengeluarkan polusi udara itu tidak lihat tempat.
Dan aku punya pengalaman paling buruk dalam hal itu. Suatu hari, seperti biasanya aku melompat ke dalam bis kota untuk pergi kuliah. Bis kota yang ku naiki merupakan semacam mini bus dengan satu pintu yang memuat hanya separuh orang dari bis kota besar biasanya. Bis kota yang ku naiki kali ini merupakan mini bus dengan tipe jendela kecil yang berada di bagian atas dekat dengan langit-langit. Tidak seperti jendela bis yang biasanya lebar dan berada sejajar dengan kursi penumpang. Bis ini sungguh biadab. Sirkulasi udaranya benar-benar buruk oleh karena kecilnya ukuran jendela. Ergh, untung aku naik di pagi hari ketika suhu udara masih cukup sejuk. Jangan coba-coba naik bis macam itu tengah siang di hari-hari musim kering. Rasanya seperti di sauna.
Lalu, si supir menghentikan bis untuk menaikkan penumpang biadab ini. Seorang bapak, masih berusia sekitar akhir 30-an, menggenggam sekotak djarum super. Aku hanya melirik ngeri. Berdoa dan berharap kemungkinan terburuk dalam otak tidak terjadi. Sial! Bapak itu menyulutkan api dan membakar rokoknya. Argh! Asap berputar dalam ruang bis yang sempit. Bis itu seperti di ruang pengasapan. Tak lama, seorang pemuda naik lagi, lebih parah dengan rokok yang menyala-nyala di tangannya. Sial! Sumpah rasanya bis itu udah kayak ruang pengasapannya Hittler.
Aku benar-benar tidak terlalu mempermasalahkan orang-orang yang merokok seandainya mereka mengerti bagaimana harus bersikap. Merokok di tempat sempit sekian meter itu. Merokok harus diakui sebagai hak hidup orang. Kemerdekaan manusia manapun yang mencari nikotin demi paru-paru mereka. Benda yang tidak perlu digubris kehalalan atau keharaman karena semua itu sudah diurus di kantor ke-malaikatan sana. Tapi, kalo orang lain hampir mati karena dicekoki oleh asap seperti yang ku alami?
Aku tidak sedang menyalahkan siapa-siapa, hanya mengajak untuk bersikap lebih logis dan sedikit berbaik hati dengan orang lain. Sedikit kebaikan hati untuk tidak sembarangan merokok.
Subscribe to:
Posts (Atom)
