Sunday, August 17, 2014

Paper crafting

As I grow older, I found myself try to search something to do in spare time. Means, i need a hobby. Belakangan ini, entah mengapa, aku selalu kepikiran untuk cari-cari sebuah hobi baru. Sejak main pinterest, hobi-hobi untuk bikin prakarya terasa sangat menarik. Mengingat keterbatasan keterampilan tangan yang dimiliki, minatku untuk punya hobi DIY pun jadi terbatas. Tapi aku kepengen menjajal yang satu ini: paper crafting alias prakarya dengan kertas. Pengalaman beberapa waktu lalu membuatkan sebuah sketch book mini dengan sebuah siluet gambar kuda *yang hasilnya malah mendekati seperti gambar naga*, membuatku tertarik untuk menjajal paper crafting yang lebih detil lagi. 

Seharian ini, si keponakan cewek nempel terus kayak lem. Daripada si kunyuk itu berkutat dengan games komputer dan hape untuk kesekian kalinya, akhirnya kuajak dia mainan gunting dan kertas. Sedikit ngintip di pinterest untuk bikin pola burung hantu, akhirnya aku menghasilkan tiga macam prakarya sekelas anak TK. Tapi, si dedek tetap aja kegirangan--mengingat para putri-putri Disney favoritnya dibikin dalam satu frame. 


Kalo melihat hasil jadinya yang seperti ini, kayaknya bakalan butuh waktu yang lama untuk bisa bikin paper craft yang secakep di pinterest. Seperti yang di bawah ini. 
 Well oh well, but it's good. Cause I think, I need a new hobby. A long-term difficult new hobby!

Friday, May 30, 2014

Sepucuk Surat Permintaan Maaf

Dear Kamu, 
Iya, kamu. Ku harapkan sampai juga surat ini untuk kamu baca. Kamu yang ku maksudkan sebetulnya jamak. Tapi aku ingin membuat ini kedengaran lebih personal.

It’s been rough months for me. Perjalanan kilat dari berbagai daerah, hutang yang menumpuk untuk dikerjakan dan waktu yang terus memburu. Rasanya seperti dihantui. Beberapa bulan ini sungguh terasa melelahkan buatku. Meskipun, memang rasanya aku kedengaran sangat manja dengan pekerjaan tak seberapa apabila dibandingkan dengan kamu. Tetapi, aku sesak nafas dengan semua yang menghampiriku beberapa bulan ini. Hingga puncaknya adalah malam ini. Aku tak tahu hantu mana yang menyambarku hingga membuatku kesetanan. Aku benar-benar bukan diriku sendiri. Aku tersesat dalam dimensi ruang kepalaku yang tidak menawarkan jalan apapun selain hanya tinggal dan menikmati begitu saja. Tanpa perlu repot-repot , tanpa tahu bahwa yang ku lakukan, keegoisan ini sungguh sangat melukaimu.

Aku tersesat dalam dunia kecil yang kubentuk sendiri. Aku tak punya keberanian untuk pergi dan memperbaiki segalanya. I messed things up. Dan sungguh, karena egoku pula aku menyakitimu.

Malam ini, satu pertanyaan besar menamparku dengan hebatnya. ‘Apakah aku punya hati?’. Dulu pertanyaan ini kedengaran sangat corny buatku. Namun, ketika kamu bertanya balik padaku, aku pun meraba-raba di dalam kedalaman diriku ini. Apa aku punya perasaan itu? Apa aku punya hati?

Maafkan aku yang telah berulang kali mengingkari janji hingga tak dapat dipercaya sedikitpun, maafkan aku telah mematahkan hatimu karena rasa takutku, maafkan aku atas semua keegoisanku, maafkan aku yang tak punya banyak waktu untuk memahami kamu barang sebentar saja, maaf karena aku membuatmu harus menangis dan marah sekaligus. Maaf karena aku tak mampu berbuat adil dan imbang dalam kehidupan kita.

Maaf saja tak cukup, pengandaian saja mungkin tak berarti. Tapi, aku ingin kamu tahu bahwa rasa penyesalanku begitu besar. Meskipun kini aku masih mencari hati dan perasaanku yang entah berceceran dimana, namun permintaan maafku ini hadir dari lubang yang berasal dari hatiku yang mungkin belum ketemu ini.

Aku harapkan masih belum terlambat untuk mengulang kembali dan memperbaiki segalanya.

30 Mei 2014

Dari aku untuk kamu

Sunday, April 27, 2014

Dear Sister

Pagi dini ini, ketika mendapat kabar darimu sungguh rasanya ikut berduka bersama dengan kamu. Satu hal yang paling kamu nantikan, satu hal yang paling sabar kamu tunggu, satu hal yang paling kamu jaga--kini telah pergi. Semestaku ikut terguncang karenanya. Tapi aku tahu bahwa kamulah yang paling sedih disini.

Aku membaca jejakmu dalam dunia maya. Melihat bagaimana dirimu menanti buah hati yang pada akhirnya tak mampu bertahan--mungkin untuk yang terbaik juga. Aku selalu berdoa dan mengharap bahwa engkau dapat menjadi seorang ibu dari anak-anak keren seperti halnya dua keponakan kita yang lain. 

Be strong sist, you know we love you so much :)

Thursday, February 13, 2014

Hello Again

Hidup dapat jungkir balik hanya dalam sekejap saja.
Suatu Senin, aku berdiri di peron stasiun--menangis sembari memeluknya.
Mengucapkan selamat tinggal dalam haru yang begitu mendalam. 
Seminggu kemudian, hari Senin juga, kami duduk berhadapan. Bicara mengenai kehidupan setelah ini semua. 
Kamu tidak jadi pergi itu kenyataan. 
Satu tahun hanya serasa lewat tujuh hari saja. 

Saturday, January 11, 2014

Hello and Goodbye

Menulis posting-an di sosial media manapun, hari-hari belakangan ini hanya akan membuat banyak orang berkomentar. Mungkin disini akan jauh lebih aman. Hal terakhir yang ku inginkan hanyalah orang lain yang berkomentar membuyarkan semua rasa yang sedang ku persiapkan. 

Dua hari sebelum aku mengucapkan sampai jumpa padanya. Another goodbye and i hope, it will lead to another hello one year later. Dia akan pergi merantau--pergi terbang ribuan kilometer jauhnya dari rumah dan tanah tempat kami berbagi cerita selama hampir 8 tahun ini. Selama ini, ku pikir, aku yang bakalan pergi duluan. Tak disangka justru malah dia yang akan pergi mengejar mimpi keluar dari zona nyaman yang selama ini melingkupi. Aku menyemangati dia untuk pergi. Aku ingin agar dia melihat dunia. Aku ingin dia pergi mengejar mimpinya. 

Mengucapkan selamat tinggal itu tidak mudah. Setelah waktu yang ku lalui dan selalu ada dia disitu. Bagaimana hidup tanpa dia? Aku membayangkan. 
Bagaimana rasanya nonton film di bioskop tidak bersama dia? Aku membayangkan.
Bagaimana rasanya dia tidak menghirup udara yang sama? Aku membayangkan. 

Dia pergi, tanpa janji apapun. Yah, aku tahu. Pada titik inipun aku dapat mengerti. Logis, bahwa rentang jarak dan waktu dapat mengubah apa yang kita miliki. 
I don't wanna over think about this anymore. Tidak ada titik balik atau perpisahan dramatis disini. Hidup terus berjalan. Dan kami akan mengejar mimpi masing-masing. 
Dan jika Tuhan masih menautkan hati kami, dan jika cinta--apabilan itu memang ada, pada pusaran waktu yang berjalan ini semua akan bermuara pada takdir. 

Dan tempatku berada akan terus disana--bersorak diujung jalan untuk mendukungnya mengejar kebahagiaan--seperti selama ini dan akan selalu begitu. 

Wednesday, January 1, 2014

Tentang Jogja yang berlalu lintas

Minggu pagi sungguh tepat untuk menikmati hari dengan berselancar menyusuri sosial media. Sembari asyik menyelami drama korea yang belakangan ini aku ikuti, ada sebuah foto menarik muncul di lini masa Facebook.
Sumber: FB disini
Foto tersebut menunjukkan kegiatan 'Jogja Last Friday Ride' pada tanggal 25 September 2013 yang lalu. Foto itu muncul dalam sebuah page diskusi mengenai kemacetan yang terjadi selama hampir 90 menit di perempatan tugu. Dalam diskusi tentu saja ada yang pro dan kontra. Wajar.
Ada yang menyuarakan pendapat bahwa boleh-boleh saja melaksanakan kegiatan komunal macam itu tetapi jangan sampai membuat pengguna jalan lain merasa terganggu karena aktifitas 'bersepeda'. Sementara seorang aktifis kenalan saya langsung bereaksi keras sebagai representasi bahwa orang-orang bersepeda tidak memiliki ruang bagi mereka dan balik menunjuk pengendara motor di Jogja belakangan ini makin menggila. Diskusi makin ramai, tentu saja.

Melihat foto dan diskusi yang sedang panas dibahas ini malah membuatku ingin bercerita.

Saya orang Jogja yang baru-baru ini memiliki kendaraan bermotor sendiri (baca: motor). Selama hampir 15 tahun, saya melakukan mobilisasi naik sepeda ataupun bis. Baru setelah lulus kuliah, motor menjadi pilihan karena kesibukan kerja dan tempat-tempat yang terjangkau oleh transportasi publik di Jogja. Naik motor di Jogja inipun seperti berada di tengah medan perang. Biasa mengutuki para pengendara motor yang kurang ajar membuat saya membuat self note bahwa saya nggak boleh jadi pengendara motor yang saya sendiri pernah maki-maki ketika naik bis kota dulu. 

Berat hati sebetulnya saya beralih dari penumpak transportasi publik menjadi pengendara kendaraan 
Tak jemu-jemunya saya mengatakan bahwa kesemrawutan lalu lintas di Jogja terjadi karena ketidak mampuan pemerintah kota mengelola transportasi massal yang representatif. Disamping pula mengenai kebijakan pembelian kendaraan bermotor seharusnya lebih diperketat lagi, baik motor maupun mobil.

Ruang lalu lintas di Jogja seharusnya terbuka bagi siapa saja. Namun bukan berarti menjadikan penggunanya sebagai raja jalanan. Patuhi rambu, jadi pengendara yang bijak. Semua membutuhkan ruang tetapi masing-masing harus dapat saling menghormati.

Jangan sampai Jogja terjebak menjadi kota dengan kemacetan luar biasa. Masih ada harapan untuk itu! 

Sunday, September 8, 2013

I Heart Korean Drama!

Sejak lebaran, atau yang berarti awal bulan Agustus 2013, saya lagi keranjingan banget nonton serial drama Korea yang berjudul The Master's Sun. Yang membuatnya menarik adalah genre ceritanya yang tidak biasa: horor-drama-komedi-romantis.

The Master's Sun ( 주군의 태양 :Jugun-ui Taeyang)
Ceritanya berpusat pada Tae Gong Shil (Gong Hyo Jin), seorang gadis yang dahulu merupakan cewek populer tetapi karena sebuah kecelakaan membuatnya dapat melihat hantu. Kemampuan untuk melihat sesuatu yang tidak dapat dilihat oleh orang lain ini membuatnya berubah menjadi gadis suram. Gong Shil memiliki lingkar hitam tebal di bawah matanya karena tidak pernah dapat tidur nyenyak akibat diganggu oleh hantu. Ia pun bertemu dengan Jo Joong Won (yang dimainkan secara apik oleh So Jisub) seorang CEO Kingdom Mall yang rakus dan selalu menghitung semua perkara dengan uang. Apabila Gong Shil menyentuh Joong Won, secara ajaib hantu-hantu yang mengejarnya hilang begitu saja. Hal ini yang membuat Gong Shil dengan gigih berusaha mendekati Joong Won. Dalam perjalanannya, Joong Won mulai menerima keberadaan Gong Shil bahkan ia pun mulai melindungi perempuan itu. 

Gong Hyo Jin & So Jisub
The Master's Sun merupakan satu paket drama korea komplit. Serial ini hadir dengan jalinan cerita tak biasa (cerita cinta berbalut horor!?), para pelakonnya yang memiliki kualitas akting jempolan, soundtrack lagunya yang mengantarkan emosi kepada para penonton, dan tentu saja visualisasi apik. Tak heran apabila drama ini memiliki rating tinggi di Korea Selatan sana.

Serial ini masih berjalan di Korea dan baru memasuki episode 10 dari 16 episode yang direncanakan. Mungkin, ini pertama kalinya saya benar-benar kecanduan drama serial Korea sampai taraf yang agak mengkhawatirkan. Sejak awal bulan Agustus, saya bersabar ditiap minggunya menunggu agar dapat menonton drama ini secara online. Minggu ini, saking tidak sabaran melihat kelanjutan kisah Gong Shil dan Joong Won, saya pun nekad nonton chanel SBS (stasiun yang menyiarkan serial ini) via streaming. Yang berarti saya nonton mereka dengan bahasa Korea tanpa subtitel. Saya cuman ngerti sepatah-patah kata itupun saya ketawa aja ngeliat dua tokoh utamanya saling berinteraksi. 

Hebat. Saya sendiri sampai heran kenapa pengaruh sebuah drama ini begitu besar. Ironisnya adalah saya nggak pernah punya kemauan sebesar ini untuk nonton sinetron Indonesia. Mungkin terakhir kali saya begitu bersemangat mengikuti satu serial di televisi Indonesia ketika RCTI menayangkan 'Si Doel Anak Sekolahan'.

Dalam sebuah obrolan ringan, seorang teman pernah nyeletuk: "Drama Korea itu sebenernya sama aja kayak sinetron Indonesia--cuman digarap lebih serius dan dibintangi oleh artis-artis yang lebih cantik dan ganteng."

Mungkin memang benar adanya. Apa sih formula sinetron di seluruh dunia itu? Semua hampir sama, plot cerita, twist-nya, pemainnya, pakem-pakemnya. Hampir semua drama yang ditayangkan di televisi menghadirkan kisah seragam. Tetapi yang menggelitik adalah, industri sinetron di Indonesia tidak mampu menghadirkan produk yang dapat dinikmati oleh orang-orang yang bukan native nya. Kini hampir seluruh orang di belahan dunia ini kenal budaya pop Korea. Amerika, Jepang, Belanda, Thailand mereka menikmati cerita drama korea ini padahal secara kultur tentunya jauh berbeda. 

 Apa yang berbeda antara industri Korea dan Indonesia kalau begitu?

Kalau menurut pendapat pribadiku sih. Industri sinetron di Indonesia tidak pernah mau digarap dengan serius tapi mampu menghasilkan putaran uang luar biasa. Lihat aja di sinetron Indonesia, mulai dari properti dan kualitas akting setara dengan pentas drama anak SMA, tapi mampu menghasilkan rupiah hingga 10 digit. Memang sih sesuai prinsip ekonomi, mengeluarkan sesedikit mungkin untuk mendapatkan sebanyak-banyaknya. Luar biasa.

Tetapi apakah hanya mau sampai disana saja? Sayang sekali, industri sinetron Indonesia justru malah mundur jauh ke belakang. Lihat era emas sinetron Indonesia di tahun 90-an. Lihat serial 'Tersanjung' yang dibikin hingga season 13 kali. Atau Si Doel Anak Sekolahan yang dibikin hingga season 5. Mereka masih menampilkan jalinan cerita apik dan seting pengambilan gambar yang berkualitas. Jauh sekali jika dibandingkan dengan sinetron yang ada sekarang ini. 

Industri sinetron Indonesia ini sangat tipikal cermin dari negara berkembang yang masih memandang sesuatu dari perspektif ekonomis saja. PR yang sangat jauh lebih berat jika kita bermimpi ingin bersaing di kancah dunia internasional dengan industri kreatif kita yang seperti ini.

Setelah hampir dua dekade kita masih memikirkan industri sinetron sebagai alat pemutar uang dan penghasil mimpi tanpa logika. Jauh sekali bila dibandingkan dengan industri Korea yang tidak saja hanya membuat kita bermimpi namun juga memberi pandangan terhadap kultur budaya Korea dengan etos kerjanya yang luar biasa.

Sayang sekali, mata kita masih buta. 

Thursday, June 20, 2013

Titik

Ada orang yang telah berlayar hingga ketujuh samudera. Ada orang yang telah berkelana menapaki sesaknya jalanan kota dongeng. Ada pula orang yang telah mendaki hingga puncak dunia.

Namun ada pula orang yang hanya diam tinggal dalam rumah. Menunggu cerita perjalanan dari orang-orang hebat itu. Menanti dengan sabar. Tua dalam rutinitas.

Semua orang bebas memilih. Aku rasa.
Ingin menghabiskan waktu dalam perjalanan. Atau menjadi tua dalam ruitinitas.

Tetapi, pada satu waktu, terkadang kita tidak dihadapkan dengan pilihan tersebut.
Bukan karena kita mau, tetapi karena kita harus menjalani salah satu dari sekian banyak pilihan.

Dan ketika berada di titik itulah, kita harus berdamai dengan diri kita sendiri. Berdamai dengan keadaan.

Thursday, June 13, 2013

Perjalanan Sepi

Tidak ada yang luar biasa saat ini. Aku hanya duduk sendiri di balik jendela besar--tengah menatapi siraman derasnya hujan. Semuanya ada dalam kesendirian. Sudah semenjak lama, aku mungkin memilih untuk berkompromi dengan diriku sendiri. Ada kalanya kehidupan ini memang harus dijalani sendiri.

Hidupku tidak sebingar dahulu. Waktu yang membawaku ke perjalanan sepi ini. Berteman dengan mimpi untuk menciptakan dunia imajinasi. Aku tidak keberatan. Aku akan coba membiasakan diri.

Mungkin akulah yang memisahkan diri dalam perjalanan ini. Diam-diam menciptakan duniaku sendiri dalam keheningan.

Biar saja.

Biar saja waktu yang menentukan. Hidup seharusnya bingar atau sunyi.
Aku akan menikmati keduanya.

Wednesday, April 10, 2013

Menulis Ketakutan

Beberapa hari belakangan ini, memang ada belenggu yang saya rasakan. Mungkin benar, belenggu itu datang dari jiwa kita sendiri. Dengan kata lain, jiwa inilah yang tidak sehat. 
Aku takut menuliskan sesuatu. Mungkin karena ingat, kritikan tajam itu. Satu-satunya yang aku tahu, itu rupanya membuatku takut menulis. 

Hebat. Ternyata aku tak setegar yang bisa ditangkap oleh orang. 
Aku ingat hari-hari belakangan ini rasanya sulit untuk mendongengkan kisah yang seharusnya sudah kutuliskan. Gugup, gamang, takut, capek. Jiwa sakit ini mungkin yang menyebabkanku tidak bisa menuliskan apa-apa. 

Aku sudah tertinggal jauh. Yang lain sudah lari hampir separuh putaran. Masih juga aku berkutat di start.
Tapi hari, optimismeku melambung naik ke angkasa. 
Aku ingin memperbaiki jiwaku yang sedang tidak sehat. 
Setidaknya kembali pada diriku. 
Kembali pada keberanianku yang pernah menulis puluhan halaman, lalu dikirimkan pada sebuah acara penulisan, dan terpilih dari ratusan naskah(mungkin). Aku harus kembali percaya pada diriku sendiri, kesempatan seperti ini tidak akan datang untuk kedua kalinya. Sayang kalo dilewatkan.

Dan mungkin jalanku mencapai mimpi yang pernah kukubur dalam-dalam bisa terbentuk. Pelan. 
Yang perlu dipikirkan kini adalah bagaimana caraku mengatasi belenggu rasa takut. 

Thursday, March 7, 2013

Resolusi Satu

Kadang kita merasa, ide yang kita punya tidak se-brilian milik orang lain.
Kadang pula, kita merasa tulisan yang kita bikin tak secemerlang milik orang lain yang bisa menghadirkan kata demi kata, diksi yang menggugah, dan kalimat yang menyihir.

Sejujurnya, saya jauh dari itu semua. Lagi-lagi menjadi tidak percaya diri.
Namun, demi mengembalikan kepercayaan diri saya, lebih baik begini deh..
Saya mengingat kembali tujuan saya menulis, mencemplungkan diri dalam wadah ini,
Apa?

Pembuktian diri. Punya satu karya, selain skripsi, yang berjumlah ratusan halaman. Untuk diri sendiri dulu.

Monday, February 25, 2013

Licin

Ketika Tahun Baru Imlek tahun yang lalu, ramai sekali surat kabar memberitakan tentang resolusi di tahun ular ini. Ahli ramal angkat bicara mengenai tahun yang disimbolkan hewan licin berdarah dingin ini. Represntasi kelicikan ular ini direfleksikan pada gambaran kemungkinan tahun 2013 sebagai tahun politik yang penuh kelicikan. 

Yah. Saya bicara mengenai tahun 2013 sebagai tahun terpanas di panggung politik Indonesia. Setahun menjelang pemilihan presiden. Sepanjang hidup saya--semenjak sekolah dasar saya mengikuti berita politik Indonesia, mungkin ini adalah pertama kalinya saya merasa politik paling kotor yang pernah terjadi di Indonesia. Semua orang berebut kursi kekuasaan, blocking media demi menyetir opini masyarakat, lompat sana-sini mencari koalisi. You name it. Apa lagi yang belum dilakukan politisi itu?

Kali ini saya ragu untuk memilih. Ada ketakutan tersendiri kita nanti pilihan kita justru akan membuat kesalahan bagi negara ini. Namun, bila tidak memilih kita juga tidak bisa mengeluh karena negara tidak bisa melakukan apapun. 

Kegamangan saya, mungkin mewakili perasaan anak muda yang memiliki ketidak percayaan besar terhadap sistem pemerintahan yang sudah sakit begini. Politik semakin kotor, kehilangan sosok pemimpin yang mampu membuat kita bekerja sama antara negara dan rakyat. Dan dengan kepercayaan diri seperti apa anda yakin memiliki kemampuan dan kebaikan untuk menjadi pemimpin? 

Tanyakan pada orang-orang yang berlomba mencari capres 2014. 

Sunday, January 13, 2013

Rough Night

Dalam hidup, kita memang tidak selalu akan mendapatkan apa yang kita inginkan. Apa yang kita harapkan belum tentu bisa kita dapatkan. Mungkin, pada suatu masa seseorang akan mengatakan kepada "Hidup ini tidak adil".

Beberapa saat ini, ketidakadilan dalam hidup ini coba ku kompromikan. Nyatanya, semua tetap berujung terasa tidak adil. Apa yang ku miliki seperti tersia-siakan hanya karena aku tidak beruntung. Apa yang seharusnya telah betul-betul ingin aku kerjakan, ingin aku wujudkan, ide brilian yang aku punya mentah oleh realita dan kompromi ku terhadap apa yang seharusnya sejak awal aku perjuangkan malah ku buang.

Ini adalah momen betapa aku sangat menyesali telah berkompromi pada ketidakadilan yang menyapaku. Bercermin dari semua yang pernah ku pandang selama ini, rupanya tidak semua harus dikompromikan. Ada saatnya memang kamu harus berjuang mempertahankan idealisme. Setidaknya kamu akan jauh lebih menyukai dirimu yang seperti itu dibandingkan dengan berubah haluan menjadi seseorang dengan kemampuan setengah-setengah seperti aku sekarang ini. It kills me slowly. 

Pada, kegelapan hati yang tengah menyelimuti ku kini aku hanya berharap terang kan datang. Dan bahwa hari esok akan jauh lebih baik, aku mati dengan terhormat. Berdiri dengan kebanggaan dan sisa idealisme yang ku punya.

Sunday, January 6, 2013

Menyeret Tubuh

Fraktura Metatarsal V.
Atau nama keren untuk patah tulang telapak kaki kanan, tepat dibagian ruas kelingking. Akibatnya, kaki saya harus digips hingga betis. Kesulitan untuk berjalan dengan kaki normal yang membuat saya selama sebulan ke depan bergantung sekali dengan krek sebagai alat bantu jalan. Crutches dalam bahasa inggrisnya.

Ini adalah momen awal tahun yang tidak pernah saya harapkan terjadi. Setidaknya, tidak tepat waktu dengan keinginan saya berkejaran ingin segera menuntaskan studi. Saya jadi bergerak sangat lambat dan melelahkan. Pengalaman ini, bisa dipetik hikmahnya untuk jangan lupa memakai kacamata ketika berjalan dan selalu berhati-hati. Kata seorang teman, ini saatnya saya belajar lembut.

Minggu pertama dengan gips dan krek saya habiskan dengan beradaptasi. Mulai dengan badan yang pegal dan kerepotan lainnya: gips harus tetap kering, nggak boleh jalan menapak, dan otot yang makin kencang dan tegang. Ada satu hari yang saya lalui dengan kelelahan luar biasa akibat memaksakan diri untuk berjalan seperti kehidupan normal saya. Belum lagi rasa iri dan tidak enak hati terhadap orang yang dapat berjalan dengan normal namun harus ikut ribet dengan saya.

Saya turut bersimpati kepada kaum difabel yang bertahun-tahun menghabiskan waktunya dengan kekurangan. Mereka cacat permanen sementara saya hanya sebulan saja sudah mengeluh tiap menit. Ini cara Tuhan untuk mengingatkan betapa beruntung hidup yang saya jalani hingga saat ini. Jangan lupa untuk terus bersyukur, sembahyang, dan mengingat Tuhan pada tiap nafas yang dihembuskan. 

Bismillah

Saturday, January 5, 2013

Dream of not knowing

Kejadian ruwet kuarter pertama awal tahun 2012 yang lalu membuat ku jadi sedikit lebih berhati-hati. Dalam bersikap, bertindak, memutuskan sesuatu, dan menjadi seseorang tega. Sejujur akan selalu sulit bagi ku bila melakukan hal tersebut. Sebetulnya, aku sama terlukanya dengan mereka yang telah ku lukai, mungkin rasanya jadi berkali lipat karena perasaan itu tadi. Karena itu, mungkin kedengarannya aku bersikap seperti pengecut yang buru-buru kabur dan menutup pintu. I locked my heart. Cara yang paling mudah untuk tidak lagi menimbulkan kekacauan batin seperti yang terjadi tahun lalu. 

I better know nothing. Lebih baik, aku tidak tahu apa-apa dan biarkan aku terperangkap dalam ketidak tahuan ku yang justru akan lebih aman bagi mereka semua. Ya, memang terasa salah sistem kerja berpikir ku. Mungkin hati ku sudah terkunci untuk perasaan yang takut untuk aku sentuh kembali. Setelah tahun-tahun belakangan ini, keadaannya jadi jauh lebih baik--tapi tidak memungkiri rasanya aku masih berputar dengan hal yang sama. Yaitu berputar dengan diri ku sendiri dan ego ku sendiri. I choose to stay for unknown periods. 

Berhubungan ini awal tahun, mungkin rasanya tepat juga apabila memohon sebuah permintaan kepada Tuhan. Nggak muluk, mungkin hanya berdoa biar dikirimkan seseorang yang bisa membuka kunci yang udah terlanjut karatan di hati ini. In a cool way, of course. Not to let me wanna run, please..

Monday, December 31, 2012

Wait for it...

A year pass by. And it's true, that 2012 is a blast for every moment that i lived in, for every single day i had been through.

Tahun terbaik dalam hidupku, sejauh ini. Bukan karena hanya sekedar rentetan keberuntungan yang menghampiri namun juga ketidak beruntungan yang jadi momen lucu, sedih, dan tak akan terlupakan. Satu tahun ini, banyak hal yang terjadi.

3x memenangkan kuis dunia maya yang berhadiah barang-barang lucu. Jatuh dari sepeda dan memar di dagu dan dengkul. Penggalian di Blora dan proyek akhir tahun yang berhubungan dengan akademis. Nonton konser band idola dari sejak SMP yang dipikirnya hanya akan jadi mimpi belaka. Pergi ke Manila sendirian untuk mengikuti workshop akademis selevel anak Master. Patah hati dan menata hati atas jawaban perasaan selama ini. Hubungan percintaan yang kayak badai dan hujan. Fokus ngerjain skripsi dan akhirnya selesai. Dan terakhir, dipenghujung tahun 2012, patah tulang jari kelingking kaki sebelah kanan.

Momen dan momen datang berganti. Tak terduga, tak dinyana, luar biasa.
Dan momen lebih baik lagi adalah pergantian tahun menuju ke 2013 yang berarti akhir dari perjalanan yang lain. It's gonna be legendary year!

Monday, November 12, 2012

Pesta Demokrasi

If you're not vote, you can't complain - Aerosmith
Saya mendengar kalimat tersebut tatkala tv berita menyiarkan tentang Band Aerosmith yang mengeluarkan album teranyar mereka pada tanggal 6 November 2012 yang juga bertepatan dengan pemilu presiden Amerika. Album mereka keluar bukan dalam rangka kampanye politis--mereka tidak memihak namun tetap mengajak warga Amerika untuk memilih dan menyumbangkan suara demi negara.

Ya benar, jika kamu tidak menggunakan hak pilih mu maka kamu tidak boleh mengeluh. Pernyataan mereka sungguh menggelitik untukku. Hal itu berarti membenarkan diriku untuk dapat mengeluh pada kinerja pemerintah yang katanya telah dipilih di negara ini dengan demokrasi. Apapun pilihannya, entah memilih presiden yang sekarang atau pun yang berbeda. Kita boleh mengeluh pada kinerja pemerintah yang katanya juga telah diberi amanat oleh rakyat untuk dapat memajukan negara.

3 tahun pemerintah baru yang terpilih ini telah berjalan. Menuju pemilihan presiden yang akan diselenggarakan tahun 2014 nanti, semua orang nampaknya juga pasang badan sejak hari ini. Ada saja berita tokoh ini, tokoh itu, pemimpin ini, pemimpin itu, parpol ini, parpol itu. Semua orang mengeluh atas kinerja presiden yang sekarang. Banyak yang tidak puas, entah karena katanya politik pencitraannya yang bikin muak masyarakt. Lagi-lagi kita mengeluh, karena korupsi justru malah makin terang-terang dipraktikan tidak punya malu lagi. Sudah berapa banyak komplen kita kepada negara ini dibandingkan dengan pujian atas kinerja pemerintah yang sudah berjalan ini selama ini? Tapi rasanya keluhan kita justru tidak membuat perubahan apapun. Politik negeri ini masih saja seperti ini. Monoton dan menyebalkan.

Apakah nanti datang saatnya, seorang pemimpin yang membuat kita tidak akan pernah mengeluhkan kepemimpinannya hadir di negara ini? Yang pasti saya harap, orang itu bukan politisi kacangan seperti yang di televisi. Namun sosok orang yang akan membuat kita simpatik--dibanding mengeluh kita akan bekerja sama dengan pemimpin tersebut dengan tidak mengeluh. 

Sunday, March 25, 2012

Cenayang

Masa depan itu selalu jadi misteri yang memikat. Pesona misterius itu yang menyebabkan banyak orang berlomba-lomba menyingkap tabir masa depan. Skip hari ini--hanya sekedar ingin tahu apa esok ekspektasi kita menjadi kenyataan.

Kadang kala, manusia membutuhkan pertanda untuk melangkah maju. Oleh sebab itulah, rubrik horoskop laku selalu dicari kala membaca majalah ataupun tabloid gosip. Manusia terkadang tidak sabaran untuk tahu kehidupannya mendatang. Tentu kita kepengen tahu, kayak apa sih jodoh kita, kerja apa besok itu, apa kita akan hidup sukses, dan pertanyaan lain. Makanya, usaha ramalan selalu laris manis. Terutama untuk orang yang punya "bakat".

Tapi gimana ada kalanya masa depan itu menakutkan sehingga membuat kita terkadang ragu untuk melangkah. Ada kala, kita tidak ingin tahu masa depan kita. Biarlah misteri tetap menjadi misteri.

Lalu, bagaimana seseorang mengatakan masa depanmu yang utuh bahkan tanpa kamu minta. Lebih-lebih lagi, sebetulnya kamu tidak berharap orang itu memberi tahu masa depan mu. Dan hidupmu mendadak tidak lagi seru. Hidup mu rasanya berputar ke arah yang membingungkan. Yang luar biasa adalah sahabat mu sendiri yang membacakan masa depan untukmu tanpa kamu minta. Serius, aku justru tersesat.

Oh kraby patty!

Thursday, March 8, 2012

Kontemplasi Sebelum Tidur

Sebetulnya saya sudah mau bablas tidur karena buru-buru ingin segera mengganti hari ini. Akan tetapi, kenangan datang tanpa permisi dalam satu kedipan mata ketika malam semakin merayap gelap. Selalu begitu. Saat sedang bengong dengan pikiran random saya--yang biasanya nggak terlalu penting seperti besok pengen pakai baju apa, tiba-tiba saja I'm having a moment. Saya teringat dengan sahabat baik saya yang sekarang sudah hijrah ke ibukota untuk bekerja, bersamaan dengan kenangan paling awal kami dapat berkawan sekental ini. Lalu, disitulah banjir kenangan saya tentang sahabat-sahabat. 

Di posting sebelum-sebelum ini saya pamer sedikit tentang persahabatan kami yang sudah sewindu itu. Nah, gara-gara kenangan nostalgia ini, saya jadi ingat memori lawas awal pertama kali kami mulai "bersahabat" yang dalam artiannya, dimana kami mulai sering main bareng, jalan-jalan, curhat, dll. 

Disitulah, malam ini saya teringat untuk pertama kalinya kami semua janjian untuk nonton film di bioskop lama (bukan jaringannya 21cineplex). Saya teringat, bagaimana perjalanan naik bis berdua dengan (calon) partner in crime saya waktu itu. 2 cewek tomboy, dengan gaya kayak mbah dukun (si sahabat pake kaos tanpa lengan kayak mbah dukun dan saya pake' jaket item seperti asisten mbah dukun), keduanya berambut sama-sama jabrik waktu itu, cuek dan nggak ada cakep-cakepnya sama sekali. Kilasan kenangan bergulir, ketika akhirnya kami batal nonton karena antrean panjang yang tidak memungkinkan untuk dapat tiket, lalu satu rombongan memutuskan untuk nongkrong saja di rumah salah satu kawan yang paling dekat dengan gedung bioskop. Seperti biasa ketika kami semua berkumpul yang ada hanya ketawa-ketiwi nggak karuan. Entah menertawakan hal apa. Yang bisa saya lihat hanya di dalam kenangan itu kami semua tertawa lebar tanpa beban, galau paling mentok kami hanyalah seputaran PR Kimia yang nggak bisa dikerjain dan cowok cakep dari kelas sebelah. 

Saya menertawakan kenangan tentang persahabatan kami selama SMA. Perjalanan yang lagi-lagi terasa seperti mimpi. Menengok kami semua yang masih bersekolah dulu rasanya tiada duanya, sekarang ini aku melihat kami semua sudah menapaki jalan masing-masing. Semua telah berpindah menuju jalan masa depan masing-masing. Kami yang polos dan naif dulu itu kini berganti menjadi orang yang lebih dewasa. Dulu kami sekedar anak-anak ingusan yang sering bikin jengkel guru, namun sekarang seorang teman bahkan mulai melangkah maju membangun rumah tangganya sendiri. 

Rasa takut menjadi dewasa kadang masih saja membayangi. Jelaslah, saya sendiri tidak yakin dengan masa depan yang agak absurd. Terbiasa dipilihkan jalan, sekarang kadang rasa takut menggerogoti tatkala harus memilih masa depan saya sendiri. 

Pada titik ini, saya cuman bisa ketawa. Andai hidup hanya sekedar mengkhawatirkan gimana caranya bikin contekan untuk ulangan kimia saja :p